Headlines

Ipmanapandode Semarang-Salatiga, Melakukan Malam Keakraban Penerimaan

Posted by Admin: | Minggu, 27 September 2015 | Posted in

Semarang.Zonadinamika.com. Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai (Ipmanapandode) kota study Semarang dan Salatiga telah melaksanakan kegiatan Malam Keakraban penerimaan Mahasiswa baru Tahun 2015 dengan Tema “Menjadi Mahasiswa Yang Intergiritas Seorang Pemimpin Masa Depan Papua” berlangsung tiga hari mulai hari Jumat, 25/09 sampai Minggu 27/09 di Vila grens Boja, Kabupaten Kendal
Ketua panitia Yohanes Pakage kepada media ini dari tempat kegiataan, mengatakan penerimaan mahasiswa baru tahun ini berjalan baik sesuai dengan jadwal kami panitia, Dalam kegiatan malam keakraban kami lebih kepada pembinaan mental, karakter dan wawasan bagi mahasiswa baru melalui materi-materi baik seminar maupun pembinaan fisik.
“Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh anggota Ipmanapandode Semarang-Salatiga yang membantu kami Panitia dari awal pembentukan panitia dalam pencarian dana sampai pada pelaksaannya yang sukses dan sangat meriah ini”.
Pakage juga mengajak kekompakan dan semangat teman-teman tetap terjaga, Semoga Malam Keakraban Tahun-tahun mendatang lebih meriah dari Tahun ini.
Sementara Ketua Ipmanapandode Semarang dan Salatiga Oktovianus Doo Meminta kepada seluruh peserta maupun anggota ikatan bahwa petiklah yang baik dari semua kegiatan ini dan tanamkan dalam diri pribadi kita masing-masing orang untuk menjadi Mahasiswa yang intergiritas seorang pemimpin sesuai dengan tema kegiatan.
Kegiatan malam keakraban ini tujuan untuk mengenal sesama ,membentuk mental dan karakter kita menjadi seorang yang selalu siap baik dikampus maupun organisasi, Kita satu dalam payung Ipmanapandode. Lanjut Doo. (Bernardo Boma)

sumber: http://www.zonadinamika.com/serba-serbi/2015/09/27/ipmanapandode-semarang-salatiga-melakukan-malam-keakraban-penerimaan-mahasiswa-baru-ta-2015

Ini 9 Sikap Tuntutan Menolak Tegas Upaya Perjuang Permekaran Kabupaten Mapia Raya

Posted by Admin: | Jumat, 18 September 2015 | Posted in , ,

Tolak Pemekaran/Foto : Doc MS
Jayapura,(KM)--Solidaritas Mahasiswa, Pemuda,Tokoh agama,Tokoh adat,Tokoh intelektual,Tokoh perempuan,bersama Alam semesta Papua menolak pemekaran kabupaten Mapia yang berjuang oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan beberapa unsur yang ada di atas ini. Dengan tegas kami meminta Pemerintah daerah dogiyai bersama tim pemekaran jangan membuat rakyat tersakiti dengan tindakan yang bertolak belakang dengan keinginan rakyat Maa Mapia.

Musa boma, Mahasiswa asal kabupaten dogiyai kepada kabarmapegaa.com di halaman asrama Paniai pada hari kamis (17/09/2015) dia mengatakan rencana pemekaran Kabupaten Mapia Raya hanya akan membawa petaka bagi masyarakat mapia dan sungguh tidak mamfaat sama sekali bagi rakyat setempat kata dia. 

"Penolakan pemekaran di Papua pada umumnya dan kawasan pegunungan tengah Papua khususnya ini terjadi karena dengan adanya penempatan pasukan Militer Indonesia yang berlebihan dalam lebel militer organik dan non organik di seluruh tanah Papua. Ini telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM terberat di Indonesia dan tindakan ini membuat seluruh rakyat Papua pada umumnya dan pada khususnya rakyat terus tersakiti dan menangis," ungkapnya sela-sela aksi.

Kekerasan demi kekerasan, tambah dia, yang dilakukan aparat keamanan pemerintah Indonesia hingga saat ini belum pernah di pertanggungjawabkan. Saya secara tegas ,pemekaran hanya membuka pintu untuk aparat melakukan pelanggaran HAM berat di Papua. 

 Meningat tindakan-tindakan tersebut, Tokoh pemuda,Tokoh masyarakat, Tokoh adat,Tokoh perempuan,Tokoh intelektual,Tokoh agama,Tokoh kepala suku besar  di wilayah mapia , Mahasiswa, Pelajar, dan bersama leluhur yang mendahui kami, Alam Semesta Bangsa Papua merangkum dalam 9 sikap sebagai tuntutan kami yaitu sebagai berikut :

Pertama: Kami menolak dengan tegas  upaya perjuang permekaran Kabupaten Mapia Raya yang sedang berjuang oleh sekelintir orang tanpa ada persetujuan dari berbagai stakeholder yang ada maka stop berjuang. 

Kedua: Pemerintah Provinsi Papua, DPRP, MRP, segera memanggil pemerintah kabupaten Dogiyai bersama Ketua Tim pemekaran Paskalis Butu bersam Willem Kegiye dalam rangka menyampaikan dan menjelaskan draft kajian akademis tentang apakah ada resolusi bersama dari rakyat atau tidak di depan Masiswa bersama kepala suku besar (RPM SIMAPITOWA) dan depan seluruh rakyat Bangsa papua Barat di jayapura.

Ketiga: Menteri Dirjen (OTDA) di Jakarta segera menghentikan atau mengeluarkan rekomendasi penolakan tegas atas Kabupaten Mapia Raya yang sedang upaya oleh elit lokal kabupaten Dogiyai. 

Keempat: Presiden Republik Indonesia di Jakarta, Bapak Ir. Joko widodo mohon instruksikan atas upaya perjuangan pemekaran di wilayah Mapia, ini bukan permintaan dari rakyat setempat.

Kelima: Presiden Republik Indonesia di Jakarta Bapak Joko Widodo segera menarik pasukan Organik dan non organik dari Papua

Keenam: Bupati Kabupaten  Dogiyai Drs Tomas Tigi segera mengelurkan surat penolakan tegas atas pemekaran Kabupaten Mapia Raya

Ketujuh: Bupati Kabupaten  Dogiyai Drs Tomas Tigi  Paskalis Butu Kabag Pemerintahan Dogiyai bersama kepala dinas kependudukan Willem Kegiye segera menghentikan keterlibatan kepala suku palsu yang mengatas namakan pemilikan ulayat untuk melakukan pelepasan tanah adat atau persetujuan rakyat setempat.

Kedelapan: Bupati Kabupaten Dogiyai bersama Intelektual Mapia stop melakukan upaya busuk dan, jangan sekali-kali katakan bahwa kami tidak bisa hidup bersama dengan teman-teman dari kamu alasan mendasar bagi tim pemekaran kalau kami mau bangun kantor saja rakyat Kamu mereka minta dengan nilai uang trilionan Rupia maka membuat kami harus berjuang pemekaran kata itu tidak layak  digunakan.

Kesembilan: Pemerintah Provinsi Papua, DPRP, dan pemerintah kabupaten Dogiyai bersama Tim pemekaran segera buka ruang dialog dan mengakomodir semua stakeholder/pemangku kepentingan yang ada guna mencari solusi yang terbaik kita duduk sama-sama dan katakan kita tolak pemekaran Mapia Raya. (WEMPI/YUAPNE)
 
*)sumber:http://www.kabarmapegaa.com/2015/09/ini-9-sikap-tuntutan-menolak-tegas.html


Dituduh OPM, Polisi Siksa Siswa SMTK di Dogiyai

Posted by Admin: | Kamis, 23 Juli 2015 | Posted in , , ,


Ilustrasi kekerasan/Ist.

Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH --
Anggota Kepolisian Daerah Papua yang bertugas di Kabupaten Dogiyai, Papua, dikabarkan menyiksa seorang pelajar Sekolah Menengah Theologi Kristen (SMTK) Dogiyai, Amos Pekei, Rabu (16/7/2015) lalu.

Kepada majalahselangkah.com, Kamis (23/7/2015) di halaman Gereja Kalvari Digikotu, Moanemani, Dogiyai, Amos Pekei berkisah.

"Saat itu saya ada pulang setelah antar orang di Dinas Pendidikan. Saya dihadang mobil kaca gelap Avansa di depan Gereja St. Maria Immaculata Moanemani, Dogiyai," ungkap Amos.

Kata Amos, ia dihadang, langsung ditodong senjata di kepala oleh polisi yang berpakaian lengkap layaknya Brigade Mobil (Brimob).

"Mereka todong senjata di kepala saya. Dia itu bilang, ko OPM to. Saya bilang, saya bukan OPM. Saya hamba Tuhan," katanya.

Kata Pekei, dirinya belum selesai bicara, pukulan sudah menghujam dan ditendang badan bagian belakang.

"Setelah saya ditendang, saya tidak sadarkan diri," kata Amos Pekei.

Amos menjelaskan, ketika sadar, dirinya sudah ada di dalam sel di Enarotali, Kabupaten Paniai.  Moanemani adalah Kabupaten Dogiyai dan Enarotali adalah Kabupaten Paniai. Perjalanan dari Moanemani ke Enarotali ditempuh dengan mobil, sekitar 70-80 KM.

"Saat saya buka mata, saya lihat saya sudah ada di dalam kurungan. Tempat yang saya tidak kenal. Saya sangat ketakutan," jelasnya.

Katanya, dia terbangun sekitar jam 03.00 WIT sore. Sejak dia ditahan tanpa alasan pada jam 08.00 WIT hingga sore itu, dia mengaku sama sekali tidak sadarkan diri.

"Selama itu, saya sama sekali tidak tahu, apa yang polisi lakukan kepada saya. Mereka bawa saya ke mana, saya tidak tahu," katanya.

Lanjut Amos, "Waktu itu saya hanya berdoa dalam hati. Tuhan, saya salah apa lalu saya ditahan."

"Beberapa saat kemudian, salah satu Polisi datang dengan suara besar. Brimob itu mendekat sambil berkata, 'kurang ajar, ko yang bunuh-bunuh orang dan saya punya masyarakat'," katanya berkisah.

"Saya lihat begini, Polisi yang datang itu, adik dari mandor yang biasa saya ikut kerja. Setelah dia lihat saya, dia diam karena sudah kenal," kata siswa SMTK Moanemani, itu.

Setelah itu, lanjut Amos Pekei, "Bah, Amos, kenapa ko ke sini. Lalu, saya bilang, saya ditahan sama ko punya teman-teman. Mereka pikir saya OPM lalu mereka tahan dan bawa saya dari Moanemani, Dogiyai."

"Saya lihat, mereka sudah antri untuk mau pukul saya. Tetapi, puji Tuhan, Brimob yang datang pertama itu sudah kenal baik dan dia menjelaskan kepada teman-teman Brimob yang lain," lanjut Amos.

Setelah dengar penjelasan, kata Amos, Polisi yang datang kepadanya untuk mau memukul itu  menjelaskan kepada Polisi yang lain, kalau Amos Pekei tidak biasa gabung di dalam OPM.

"Waktu itu, Brimob itu sedang jelaskan kepada Brimob yang lain, ada saudara perempuan saya dan salah satu mantan anggota DPR dari Deiyai datang ke Pos Polisi dan meminta kepada Polisi untuk keluarkan saya," tutur Pekei.

Lanjut Amos, dirinya bisa keluar karena ada Polisi yang ia kenal. Jika tidak ada Polisi itu, ia mengaku tidak tahu, apa yang terjadi pada dirinya.

Kata Pekei lagi, saat itu, mantan anggota DPR Deiyai itu juga meminta dengan tegas kepada Polisi agar jangan tahan masyarakat secara sembarangan.

"Sekitar jam 04.00 WIT itu, Brimob keluarkan saya dari sel Polisi di Paniai. Saya diantar pulang dari Paniai oleh mantan DPR itu," tuturnya.

Amos menambahkan, Polisi yang bertugas di Dogiyai hanya satu orang saja di dalam Avansa. Sedangkan Polisi yang lain, ia sama sekali tak mengenal wajahnya. Mereka berpenampilan dan berpakaian Brimob.

"Mereka semua muka baru dan saya tidak kenal," kata Amos.

Mengingat kejadian tersebut, ia meminta kepada semua orang Papua, terlebih anak-anak muda Papua, agar selalu waspada dan selalu hati-hati.

Dikecam Banyak Pihak


Kejadian tersebut disayangkan salah satu anggota DPRD Dogiyai, Markus Waine.

Waine meminta kepada pihak keamanan yang bertugas di Dogiyai agar tidak membuat resah kepada masyarakat kecil.

Ia juga meminta agar aparat keamanan agar jangan menahan masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa.

"Kalau mau buat masyarakat resah, takut dan mau menahan secara semena-mena, jangan bertugas di Dogiyai," katanya tegas.

Wakil rakyat ini mengecam tindak tidak manusiawi yang dilakukan aparat keamanan. "Jika datang hanya untuk buat masalah, silahkan angkat kaki dari Dogiyai dan pulang. Kami di Dogiyai aman," tegas Waine.

Sementara itu, tokoh pemuda kabupaten Dogiyai, Yanuarius Yuaiya Goo, mengatakan, tidak boleh lagi pihak keamanan lakukan tindakan kekerasan kepada masyarakat.

"Polisi jangan lakukan tindakan seperti itu. Tindakan itu tidak manusiawi," ujar Goo.

Yan mewakili pemuda Dogiyai, menyayangkan tindakan tersebut. Selama ini, masyarakat Dogiyai hidup dalam damai.

Ia pertanyakan, keberadaan polisi yang ia diduga adalah polisi di Dogiyai. "Masyarakat Dogiyai tidak butuhkan Brimob di Dogiyai. Segera tarik diri dari Dogiyai dan pulang," tegas Yan.

Penegasan sama disampaikan tokoh adat di Dogiyai, Germanus Goo, bahwa jangan ada pihak yang sengaja ciptakan konflik di Dogiyai.

"Kita semua sudah hidup dalam rukun. Jangan ada pihak yang ciptakan masalah di tanah adat Dogiyai," kata Germanus.

Jika ada pihak yang ciptakan masalah, tegas Germanus, jangan di Dogiyai.

"Kalau mau hidup dalam masalah, Dogiyai bukan tempatnya. Silahkan pulang. Entah, polisi kah, Brimob kah, tentara kah, jangan buat masalah kepada masyarakat kecil di Dogiyai," tegasnya lagi.

Terkait kejadian itu, ia meminta kepada Brimob untuk jangan lagi menahan sembarangan masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa. 

Hingga berita ini ditulis majalahselangkah.com belum mendapatkan konfirmasi dari kepolisian setempat terkait peristiwa ini. (Philemon Keiya/MS)

#TERPOPULER

Random Posts

#Translate

Tayangan Laman

# FIRMAN TUHAN

# FIRMAN TUHAN

# visitor

Flag Counter