 |
Tahanan politik Papua Barat Filep Karma bersama mamanya, Eklefina
Noriwari, sudah usia 75 tahun, di rumah sakit PGI Cikini, Jakarta, pada
Juli 2010, ketika Karma menjalani operasi prostate. Pada 3 Desember 2010
Karma dipindah ke tahanan Polda Papua menyusul terjadi kerusuhan dalam
penjara Abepura. ©Andreas Harsono
|
Pelanggaran hak asasi manusia Papua oleh negara Indonesia.
Pada suatu Minggu Desember 2008, saya berkunjung ke penjara
Abepura, sebuah bangunan Belanda di sebuah bukit Port Numbay. Penjara
ini menarik karena ada surat dari beberapa organisasi Papua kepada UN
Special Rapporteur on Torture Manfred Nowak dimana mereka menerangkan
berbagai macam siksaan dalam penjara. Ada tahanan dipukul dengan gembok
sehingga kunci menembus mata kanan si tahanan. Para pelaku, tiga orang
sipir penjara, tampaknya
immune dari hukuman. Tendangan dan pukulan terkesan masalah biasa di Abepura. Air minum juga masalah. Makanan bermutu buruk.
Minggu yang tenang. Saya melewati tempat pemeriksaan. Anthonius
Ayorbaba, kepala penjara, minta semua barang ditaruh di tempat
penitipan. Saya pun dipersilahkan masuk dalam aula penjara, bergabung
dengan sekitar 30 pengunjung, yang hendak merayakan ibadah Minggu.
Pendeta naik ke mimbar. Bernyanyi. Berdoa. Mendengar khotbah.
Seorang lelaki duduk dekat saya. Brewok lebat dan memakai bendera
Bintang Kejora kecil di dada. Namanya, Filep Karma, seorang tahanan
politik Papua. Saya berbisik bahwa saya seorang wartawan, sedang cari
bahan soal siksaan dalam penjara. Ibadah selesai. Dia memperkenalkan
saya kepada beberapa tahanan politik lain: Ferdinand Pakage dan Luis
Gedi.

Pakage
berbadan besar, kulit hitam, orang Mee. Mata kanan terlihat kempes. Dia
tak bicara banyak. Dia hanya cerita kepala sering pusing sesudah mata
kanan dia ditusuk kunci oleh seorang sipir penjara pada September 2008.
Dua sipir lain menendang dan memukul dengan tongkat karet. Pakage
dipenjara karena dinyatakan bersalah bunuh polisi bernama Rahman Arizona
dalam demonstrasi depan kampus Universitas Cendrawasih pada 16 Maret
2006. Pakage bilang dia ada di rumah saat kejadian. Polisi menangkap dia
pada petang hari 16 Maret. Polisi menyiram air panas ke badan Pakage.
Mereka memukul dia hingga berdarah dari kepala, bibir, kaki, tangan dan
badan.
Pakage berpendapat kesaksian dari dua orang, yang dihadirkan jaksa
terhadap dirinya—terdiri dari Luis Gedi (teman Pakage) dan Alia Mustafa
Samori (seorang polisi)— tak bisa dipercaya. Polisi menangkap dan
menyiksa Gedi ketika dia pulang dari toko siang itu. Gedi seorang
penjaga toko. Petang itu dia mengantar seorang kawan perempuan, etnik
Minahasa, pulang ke rumah karena keadaan tegang. Gedi bilang pada saya
dia terpaksa mengaku bunuh polisi Rahman Arizona. Polisi mendesaknya
kasih nama tersangka lain. Gedi asal bicara dan sebut nama kawan dia:
tukang parkir Ferdinand Pakage.
“Dong polisi ada lebih 20 pukul sa. Sa bilang sa buang pisau depan kampus. Tra tahan dipukul.”
Ketika polisi membawa Pakage ke kampus, tentu saja, mereka tak menemukan
pisau. Seorang perwira polisi menembak kaki Pakage. Dia lantas
mengarang cerita pisau ada di rumah. Maka polisi pun mencari pisau.
Dapat pisau Kiwi milik mama Pakage.
Papa Ferdinand, Petrus Pakage, mengatakan kasus anak dia, “Semua itu
tipu-tipu. Saya menandatangani dokumen itu dan menyerahkan kaos dan
pisau dapur. Tapi pisau itu dipakai buat potong sayur. Dorang pu mama
selalu simpan di rumah.”
Di pengadilan Abepura, Ferdinand Pakage dihukum 20 tahun penjara. Tanpa ada satu pun saksi dari pihak Pakage.
“Dorang pengacara tra bela,” katanya.

Filep
Karma sendiri orang Biak, pegawai negeri berumur 51 tahun. Dia ditahan
sejak Desember 2004. Karma adalah anggota keluarga elite di Papua.
Ayahnya, Andreas Karma, termasuk bupati paling populer di Papua. Dia
menjabat bupati Wamena pada 1970-an serta Serui pada 1980-an. Pada 1979,
Filep Karma studi ilmu politik di Universitas Sebelas Maret, Solo,
Pulau Jawa. Dia lulus 1987 dan mulai bekerja sebagai pegawai negeri di
Port Numbay. Dia menikah dengan Ratu Karel Lina, seorang perempuan
Melayu-Jawa, kelahiran 1960 di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Pada
1997, Karma menerima beasiswa untuk mengikuti kursus 11 bulan di Asian
Institute of Management, Manila. Ketika terbang ke Jakarta pada Mei
1998, dia mempelajari protes mahasiswa Universitas Trisakti terhadap
pemerintahan diktator Suharto. Dia hanya dua hari ada di Jakarta ketika
aparat keamanan menembak mati beberapa mahasiswa Trisakti.
“Kalau terus ikut Indonesia, penduduk asli Papua akan terus dianiaya.
Mungkin 20 hingga 30 tahun lagi sudah habis kebudayaan Papua. Artinya,
orang Papua juga sudah habis,” katanya.

Sekembali
ke Papua, Karma mulai mendukung secara terbuka kemerdekaan Papua. Pada 2
Juli 1998, dia ikut mengatur aksi pro-kemerdekaan dan mengibarkan
bendera Bintang Kejora di kota Biak. Human Rights Watch dalam laporan
Human Rights and Pro-Independence Actions in Irian Jaya
melaporkan bahwa seorang sersan polisi masuk ke kalangan demonstran.
Dia dianggap hendak provokasi. Dia dipukul dan beberapa gigi patah. Ini
menciptakan bentrok. Polisi berusaha membubarkan demonstrasi, selama
empat hari.
Pada 6 Juli 1998, militer Indonesia mengambil-alih Pulau Biak,
mendatangkan bantuan dari Batalion 733 Ambon dan menembaki para
pengunjuk rasa dari empat sisi. Jumlah korban tewas belum diketahui.
Banyak mayat dilaporkan dimuat ke dalam truk dan diduga dibuang ke laut
dari dua kapal TNI Angkatan Laut. Karma menduga banyak mayat dikubur
seadanya di pulau-pulau kecil dekat Biak. Dia memperkirakan lebih dari
100 orang terbunuh. Pemerintah Indonesia tak lakukan penyelidikan serius
atas insiden itu.
Karma terluka di kaki oleh peluru karet. Polisi menangkap 150 orang.
Hanya 19 diadili termasuk Karma. Mereka menahan Karma dari 6 Juli sampai
3 Oktober 1998. Pada 25 Januari 1999, pengadilan negeri Biak menyatakan
dia bersalah dengan tuduhan makar karena memimpin aksi dan pidato.
Pengadilan Biak jatuhkan hukuman penjara 6,5 tahun. Karma ajukan
banding. Dia bebas demi hukum pada 20 November 1999.
Dia kembali bekerja sebagai pegawai negeri. Pekerjaan Karma terutama
melatih calon pegawai negeri di Papua. Dia banyak bicara pada mahasiswa.
Dia mengatur program pelatihan dimana orang muda belajar soal sistem
administrasi, hukum maupun birokrasi Indonesia.
Pada 1 Desember 2004, sesudah yakin program otonomi Papua disabot oleh
pemerintah Indonesia, antara lain lewat pemecahan Papua dalam banyak
kabupaten, Karma mengorganisir sebuah upacara peringatan 1 Desember 2004
—untuk menandakan ulang tahun kedaulatan Papua pada 1 Desember 1961.
Peristiwa ini dihadiri ratusan pelajar dan mahasiswa Papua, yang
berteriak “merdeka!” serta memasang bendera Bintang Kejora. Mereka juga
menyerukan penolakan terhadap otonomi yang dinilai gagal.
Polisi membubarkan paksa unjuk rasa itu. Bentrokan pecah dan kerumunan
orang menyerang polisi dengan balok kayu, batu dan botol. Polisi
merespon dengan tembakan ke arah kerumunan. Karma segera ditahan dan
dituduh makar. Pada 27 Oktober 2005, pengadilan negeri Abepura menghukum
15 tahun penjara. Rekannya, Yusak Pakage, divonis 10 tahun penjara.
Kini Filep Karma mungkin satu dari pemimpin Papua yang paling populer.
Dia diterima di kalangan orang Pegunungan Tengah dan kaum pesisir. Dia
tak pernah menganjurkan kekerasan untuk mencapai tujuan itu. Dia
berkata, “Kami ingin membuka suatu dialog yang bermartabat dengan
pemerintah Indonesia, suatu dialog antara dua orang bermartabat, dan
bermartabat berarti kami tidak pakai cara-cara kekerasan.”

Karma
menganjurkan saya bezoek Yusak Pakage di rumah sakit Abepura. Ketika
keluar dari penjara, saya naik taxi menuju rumah sakit, untuk bertemu
Yusak Pakage. Dia cerita bagaimana dia dipukul dalam penjara. Pakage
bilang sejak Anthonius Ayorbaba menjadi kepala penjara, dua bulan lalu,
dia minta waktu bisa bicara dengan Ayorbaba. Kami cerita panjang dan
lebar. Tak kami sangka, tiba-tiba Ayorbaba datang ke kamar Yusak Pakage,
tanya kesehatan lantas mengajak baca Bible dan berdoa. Saya mohon undur
diri. Pakage sempat mengeryitkan mata pada saya.
Perkenalan ini merupakan awal dari serangkaian interview saya terhadap
para tahanan politik di Papua untuk Human Rights Watch. Saya juga bikin
interview di Sentani, Manokwari, Fakfak, Nabire maupun Wamena. Selama
setahun lebih, saya mengumpulkan berkas-berkas para tapol, belakangan
juga para tapol Alifuru dari Kepulauan Ambon. Menurut anthropolog George
J. Aditjondro, etnik Papua dan Alifuru disebut “Melanesia Barat.” Nama
Melanesia berasal dari kata Latin “melano” (hitam) dan “nesos”
(kepulauan). Artinya, kepulauan milik orang-orang berkulit hitam. Saya
suka istilah itu: tahanan politik Melanesia. Saya wawancara lebih dari
50 tapol Melanesia di Indonesia, antara 2008 hingga 2010, selama setahun
lebih.
Human Rights Watch menerbitkan penelitian ini pada Juni 2010 dengan judul,
Prosecuting Criminal Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners.
Laporan ini minta pemerintah Indonesia membebaskan lebih dari 100
tahanan politik di Papua maupun kepulauan Maluku. Mereka dinilai tidak
bersalah. Mereka hanya menyatakan aspirasi mereka untuk merdeka dari
Indonesia. Menyatakan pendapat adalah bagian dari kebebasan berpendapat.
Ia dilindungi hukum Indonesia maupun International Convenant on Civil
and Political Rights, sebuah traktat internasional, yang diratifikasi
Indonesia pada 2006. Pada 16 Agustus 2010, 25 organisasi hak asasi
manusia dari Amerika Serikat, Australia, Eropa, Indonesia dan Timor
Leste mengirim surat dan minta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
membebaskan para tapol Melanesia. Mereka termasuk Aliansi Nasional Timor
Leste Ba Tribunal Internasional, Australia West Papua Association
Melbourne, Free West Papua Campaign UK, Freunde der Naturvolker e.V.,
Human Rights Watch, Kontras, Land is Life, La'o Hamutuk (Timor Leste),
Perkumpulan HAK, Tapol dan West Papua Advocacy Team.
Namun pemerintahan Presiden Yudhoyono tak menganggap penting untuk
membebaskan orang-orang yang tak bersalah ini. Di Jakarta, dia malah
dapat kontroversi karena memberikan remisi kepada 300an koruptor,
termasuk besan dia sendiri, Aulia Pohan, yang langsung bebas dari
penjara. Tampaknya, Yudhoyono lebih suka membebaskan koruptor Indonesia
daripada tapol Melanesia.
II
SUATU hari pertengahan Juli 2010, sebulan sesudah peluncuran
laporan Human Rights Watch, Izumi Kurimoto dan saya mengunjungi Seichi
Okawa di daerah Takadanobaba, Tokyo. Okawa-san adalah direktur Graha
Budaya Indonesia (Indonesian Culture Plaza atau インドネシア文化宮), sebuah
bangunan tiga tingkat, yang bekerja soal kebudayaan di Indonesia. Lantai
satu dijadikan toko dimana dijual macam-macam batik Jawa, tenun ikat
Sunda Kecil maupun berbagai barang kerajinan Papua. Ada lukisan Sentani,
ada ukiran Asmat. Kami mengobrol sambil minum kopi Wamena. Enak sekali.
Kurimoto, seorang mahasiswa, sibuk memotret.
Okawa cerita riset dia soal 40,000 tentara Jepang, yang meninggal di
Papua, pada zaman Perang Dunia II. Dia mengatakan sekitar 15,000
kerangka serdadu ada di Pulau Biak. Kebanyakan mereka meninggal karena
terkena penyakit atau kelaparan dalam perang menghadapi Sekutu.
Menurut buku
An Act of Free Choice: Decolonisation and the Right to Self-Determination in West Papua
karya P. J. Drooglever, satu divisi Angkatan Darat Jepang dipusatkan di
Manokwari pada 1942. Mereka terutama ditugaskan mencegah serangan udara
Sekutu. Pasukan Jepang tak masuk ke pedalaman Papua karena ada
pasukan-pasukan kecil Belanda yang gerilya di pedalaman. Namun mereka
dikalahkan pasukan Sekutu, yang lompat katak, dari Australia, Papua New
Guinea, Papua, kepulauan utara Maluku dan Filipina, sebelum masuk ke
Okinawa, kepulauan Jepang, pada April-Juni 1945. Gerakan lompat katak
ini membuat ribuan pasukan Jepang terlantar di Papua dan kepulauan
Maluku karena markas-markas mereka dihancurkan. Mereka melarikan diri
sambil kelaparan dan kena malaria.
Saya pernah tahu ada gua di Biak dimana orang bilang kerangka-kerangka
serdadu Jepang berserakan. Warga Biak tidak mengutak-atik gua itu. Okawa
juga pernah berkunjung ke gua itu.
Sekutu menjatuhkan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9
Agustus 1945. Jepang menyerah kalah. Di Pulau Jawa, para pejuang
kemerdekaan memanfaatkan kekalahan Jepang dari Sekutu untuk menyatakan
merdeka pada 17 Agustus 1945. Namun ia perlu waktu empat tahun guna
diplomasi antara Indonesia, dipimpin oleh Sutan Sjahrir, dengan Kerajaan
Belanda.
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Namun Papua
masih di bawah administrasi Kerajaan Belanda. Belanda mempersiapkan
sekelompok elite Papua untuk bisa mengatur diri mereka sendiri.
Asumsinya, Papua akan diakui kedaulatan pada 1970. Pada 1 Desember 1961,
Papua Raad, sebuah lembaga yang disponsori kerajaan Belanda, menyatakan
masyarakat Papua siap mendirikan sebuah negara berdaulat, dan
mengibarkan bendera nasional baru yang dinamakan Bintang Kejora.
Keputusan itu membuat Presiden Soekarno marah besar. Dia berpendapat
Papua harus menjadi bagian dari Indonesia dan menuduh Kerajaan Belanda
berusaha menciptakan “negara boneka” di Papua. Pada 19 Desember 1961,
dari kota Jogjakarta, Soekarno memerintahkan pasukan Indonesia untuk
menyerbu Papua. Dia memakai slogan “dari Sabang sampai Merauke” –sebuah
slogan yang sebenarnya ciptaan perwira Belanda J.B. van Heutsz, yang
menaklukkan Aceh pada 1904, dengan sadis 2,900 orang dibunuh, termasuk
1,100 perempuan dan anak-anak. Pada awal 1962, pasukan Indonesia mulai
menyusup ke Papua. Ini menciptakan gelombang pengungsi ke Papua New
Guinea. Pemerintah Amerika Serikat turun tangan. Setelah negosiasi,
Indonesia dan Belanda pun setuju menunjuk PBB mengadakan sebuah
referendum bagi Papua. Indonesia minta bukan referendum tapi
“musyawarah” ala Indonesia.
Eni Faleomavaega, anggota Kongress Amerika Serikat, dalam hearing soal
Papua pada 22 September 2010, mengutip data Congressional Research
Service:
“… declassified documents released in July 2004 indicate that the
United States supported Indonesia’s take-over of Papua in the lead up to
the 1969 Act of Free Choice even as it was understood that such a move
was likely unpopular with Papuans. The documents reportedly indicate
that the United States estimated that between 85% and 90% of Papuans
were opposed to Indonesian rule and that as a result the Indonesians
were incapable of winning an open referendum at the time of Papua’s
transition from Dutch colonial rule. Such steps were evidently
considered necessary to maintain the support of Suharto’s Indonesia
during the Cold War.”
Penentuan Pendapat Rakyat, yang diawasi PBB dan direkayasa Amerika
Serikat serta Indonesia, berlangsung dari 14 Juli hingga 2 Agustus 1969
di delapan kota: Merauke, Jayawijaya, Paniai, Fak-fak, Sorong,
Manokwari, Biak dan Port Numbay. Ia hanya
diwakili 1,025 warga Papua, termasuk sebagian orang Indonesia
yang dikirim ke Papua. Semua ditentukan pemerintah Indonesia. Mereka
dikumpulkan terlebih dahulu oleh tentara Indonesia dalam barak-barak
selama enam minggu. Mereka diminta memilih Indonesia … atau dibunuh.
Maka mereka bulat-bulat 100 persen memilih integrasi dengan Indonesia.
Banyak penduduk Papua memandang Penentuan Pendapat Rakyat merupakan
manipulasi Indonesia untuk menduduki Papua.
Dua minggu sesudah kejadian, 16 Agustus 1969, dalam sidang dengan
Majelis Permusyawaratan Rakyat di Jakarta, Presiden Soeharto, yang
menggantikan Soekarno, menjanjikan otonomi kepada warga Papua. Dalam
pidato Soeharto mengatakan:
“Saat ini, dengan selesainya Pepera kita semua telah menunjukkan kepada
dunia bahwa seluruh rakyat Indonesia yang berdiam di wilayah-wilayah
dari Sabang sampai Merauke, merupakan suatu keluarga bangsa yang tak
dapat dipisahkan lagi, Bangsa Indonesia. Tetapi Pepera bukan tujuan
akhir kita .… Masalah yang paling penting adalah PEMBANGUNAN daerah
Irian Barat secara serentak ... Irian Barat pun segera akan menerima
kedudukannya sebagai DAERAH TINGKAT I dengan OTONOMI yang riil dan
luas.”
Pada 6 November 1969, Sekretaris Jenderal PBB U Than menyampaikan hasil
“musyawarah” kepada Sidang Umum PBB, atau United Nations General
Assembly, forum tertinggi perserikatan negara-negara seluruh dunia.
Hasilnya, dibicarakan dalam sidang-sidang pada 13 hingga 19 November
1969. Menteri Luar Negeri Adam Malik kuatir melihat “suara Afrika”
–termasuk Botswana, Lesotho, Swaziland, Zambia, Togo, Ghana dan
Dahomey-- dalam sidang-sidang PBB. Dia minta pemerintah Britania agar
membantu lobby terhadap negara-negara Afrika, yang kritis terhadap hasil
Penentuan Pendapat Rakyat, agar mau bicara sendiri dengan delegasi
Indonesia. Belgia, Indonesia, Luxemburg, Malaysia, Belanda dan Thailand
membuat draft resolusi PBB guna menerima hasil musyawarah di Papua.
Akhirnya, ketika voting diambil, 82 negara menerima resolusi dan 30
abstain. Tak ada satu pun negara menolak resolusi PBB soal Papua.
Ternyata pembangunan praktis tak dijalankan untuk warga Papua. Kekerasan
mewarnai tahun-tahun pemerintahan Soeharto di Papua. Pada 1970an, rezim
Soeharto memberlakukan policy represif terhadap Organisasi Papua
Merdeka. Dia menunjuk perwira-perwira militer untuk memerintah Papua.
Setiap kali ada protes dijawab dengan kekerasan.
Perusahaan-perusahaan internasional masuk dan melakukan eksplorasi alam
dalam ukuran raksasa. Freeport McMoran, sebuah perusahaan New Orleans,
membangun tambang emas paling besar dunia di Grasberg, Timika. Ironis,
Freeport tanda tangan kontrak tambang dengan Indonesia pada 1967 ketika
Papua masih belum resmi jadi wilayah Indonesia. Menurut data 2008 dari
Nindja, sebuah NGO Tokyo, tiga perusahaan Jepang memegang 75 persen
saham di kilang tembaga Gresik. Kebanyakan tembaga untuk Gresik berasal
dari tambang Freeport di Papua. Mitsubishi Materials memiliki saham 60,5
persen, Nikko Metal 5 persen, dan Mitsubishi 9,5 persen. Sekitar 50
hingga 60 persen tembaga dari Grasberg diekspor ke Jepang. Menurut
harian New York Times, Freeport jadi sapi perah operasi militer
Indonesia di Papua. Freeport rutin sumbang dana untuk keperluan militer
Indonesia di Papua.

Pada
November 1983, militer Indonesia menangkap musikus Arnold Ap dari
Universitas Cenderawasih di Port Numbay. Kesalahan Ap? Dia mengumpulkan
dan merekam musik-musik dari berbagai etnik Papua, sekaligus dalam
bahasa-bahasa asli mereka. Macam-macam lagu ini lantas diproduksi dan
diedarkan lewat pasar bebas. Lagu-lagu ini dianggap membantu pembentukan
nasionalisme Papua. Dia disekap dan dianiaya dalam sebuah bekas toko,
yang dijadikan markas rahasia militer. Belakangan, militer serahkan Ap
pada polisi.
Menurut dokumen pengadilan dan kesaksian seorang polisi Papua, pada
malam 21 April 1984, seorang penjaga, Pius Wanem, membius dua polisi dan
membuka kunci sel. Wanem, Arnold Ap dan empat tahanan lain, naik taksi
pergi ke pantai Base-G di Port Numbay, menunggu kapal yang akan membawa
mereka ke Papua New Guinea. Mereka menunggu di sebuah gua. Wanem sendiri
kembali ke Port Numbay. Dia belakangan kembali ke pantai dengan
beberapa tentara. Dalam persidangan, Pius Wanem mengatakan Arnold Ap dan
seorang tahanan tewas dalam "operasi Kopassandha." Kopassandha
singkatan dari Komando Pasukan Sandi Yudha, sebuah pasukan khusus
Indonesia. Arnold Ap mati ditembak di perut. Ini menciptakan ketakutan.
Gelombang pengungsi ke PNG mulai lagi.
Pada Juni 1984, Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja
mengatakan dalam konferensi pers bahwa Ap dicegat di laut ketika kapal
melarikan diri. Patroli minta mereka menyerah. Perahu Ap tiba-tiba
menembaki kapal patroli, yang menyebabkan kapal patroli menembak balik,
termasuk Arnold Ap. Kusumaatmadja menuduh Arnold Ap sebagai “separatis
OPM.”
Okawa-san juga mengingatkan saya pada Teruko Wanggai, perempuan Jepang
yang menikah dengan cendekiawan Papua Dr. Tom Wanggai di prefecture
Okayama. Di Port Numbay, Dr. Wanggai memperkenalkan bendera
pro-kemerdekaan “Melanesia Barat” pada 14 Desember 1988. Bendera ini
berbeda dari bendera Bintang Kejora versi 1961. Wanggai juga memakai
terminologi "Melanesia Barat." Dia meninggalkan Bintang Kejora dengan
alasan bendera itu bikinan orang Belanda dengan tiga warna Belanda:
biru, merah, putih. Orang Papua biasa sebut bendera Wanggai sebagai
“Bintang 14” karena ada 14 bintang.
Belanda atau bukan, Wanggai ditangkap dan dihukum 20 tahun penjara. Pada
1995, saat ditahan dalam sel penjara Cipinang, Jakarta, dia mengeluh
sakit. Namun dia tak segera diberi bantuan medis. Wanggai meninggal pada
12 Maret 1996 di rumah sakit Jakarta. Port Numbay dilanda protes besar
ketika jenazah Wanggai tiba dari Jakarta.
Setelah Presiden Suharto mengundurkan diri pada Mei 1998, pemerintah
Indonesia mengizinkan Timor Timur untuk bikin referendum. Pada Januari
1999, Presiden B.J. Habibie bilang lebih baik referendum sekarang
daripada ditunda 10 tahun lagi. Sebulan berikutnya, 100 delegasi Papua
datang ke Habibie, mereka juga minta diizinkan bikin referendum. Habibie
menolak. Namun Habibie menjanjikan otonomi khusus kepada Papua –persis
seperti janji Soeharto pada 1969.
Janji Habibie dijawab oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Megawati
memberikan status daerah Otonomi Khusus kepada Papua pada Agustus 2001.
Ia meliputi pelimpahan kekuasaan lebih besar secara politik dan keuangan
bagi provinsi ini. Undang-undang Otonomi Khusus juga secara eksplisit
mengizinkan simbol-simbol identitas Papua ditampilkan terbuka, seperti
bendera dan lagu kebangsaan rakyat Papua. Ia juga mengizinkan pendirian
Majelis Rakyat Papua, sebuah organisasi perwakilan penduduk asli Papua,
yang merasa terpinggirkan dengan kedatangan migran Indonesia.
Namun salah seorang wakil Papua yang ikut “musyawarah” serta mendengar
janji-janji Presiden Soeharto pada Agustus 1969, merasa perlu untuk
menyatakan keraguan dia secara terbuka. Kali ini dia merasa perlu
mendengar hati nurani dia. Nama politikus tersebut Theys Eluay. Dia
mantan politikus binaan Soeharto dan kini ketua umum Presidium Dewan
Papua, sebuah organisasi yang kuat. Eluay menolak program otonomi khusus
dari Jakarta. Dia bilang Papua harus merdeka. Dia tak ingin Papua
tertipu lagi. Dia ingin PBB memahami ketidakpercayaan bangsa Papua
terhadap Indonesia.

“Kalau
saya mati, saya pasti masuk ke surga. Tetapi kalau saya lihat orang
Indonesia di sana, biar satu orang saja, saya akan lari tinggalkan
surga. Kalau malaikat Tuhan tanya saya mengapa lari, nanti saya jawab,
‘Ah saya takut orang Indonesia menjajah kami orang Papua di surga
juga,’” kata Theys Eluay.
Pada 10 November 2001, Komando Pasukan Khusus alias Kopassus, nama baru
Kopassandha, mengundang Theys Eluay ikut perayaan Hari Pahlawan
Indonesia, yang diadakan Kopassus di daerah Hamadi, Port Numbay. Ketika
pulang, tujuh prajurit Kopassus mencegat, mencekik dan membunuh Theys
Eluay. Sopirnya, Aristoteles Masoka, sempat telepon isteri Eluay, Yaneke
Ohee, dan bilang Eluay diculik. Namun telepon tersebut singkat sekali.
Mayat Eluay dan mobil Toyota Kijang dibuang di daerah Koya, luar kota
Port Numbay.
Sehari sesudah pembunuhan, Lt. Kol. Hartomo, komandan Kopassus di Port
Numbay, bikin press conference. Dia bilang Kopassus sama sekali tak
terlibat dengan pembunuhan Eluay. Masoka sendiri hilang tak tentu rimba
hingga hari ini. Namun tekanan dunia internasional memaksa kepolisian
Indonesia melakukan penyelidikan. Pada April 2003, pengadilan di
Surabaya menghukum tujuh prajurit Kopassus, termasuk Letnan Kolonel
Hartomo, melakukan penganiayaan, yang berakibat kematian Eluay. Namun
mereka tak terbukti melakukan pembunuhan. Hukuman penjara tujuh prajurit
itu antara dua hingga 3,5 tahun penjara. Hartomo pingsan ketika
mendengar dia dipecat dan dihukum penjara 3.5 tahun.
Namun Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu memuji para
terhukum sebagai ”pahlawan Indonesia” karena berhasil membunuh
”pemberontak”. Tak ada investigasi lebih lanjut untuk mengetahui siapa
yang memerintahkan pembunuhan itu. Tak ada pejabat senior yang dituntut
bertangungjawab. Masoka juga hilang tanpa ada upaya pencarian.
Pembunuhan ini secara dramatis meningkatkan ketegangan politik di Papua.
Orang Papua makin meragukan otonomi khusus dimana dikatakan hak-hak
asasi manusia akan dihargai. Bagaimana bisa percaya otonomi bila Theys
Eluay dibunuh?
Pengganti Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menciptakan
sebuah aturan dimana menaikkan bendera Bintang Kejora dinyatakan sebagai
kegiatan terlarang lewat Peraturan Pemerintah nomor 77/2007. Aturan
ini, menurut ketua Majelis Rakyat Papua Agus A. Alua, melanggar UU
21/2001 tentang Otonomi Khusus. Namun Yudhoyono diam saja.
Ironisnya, orang-orang Papua lantas mengetahui bahwa Hartomo, yang sudah
dihukum penjara 3.5 tahun dan dipecat dari militer, ternyata naik
pangkat menjadi kolonel. Hartomo bahkan menjadi komandan Group I
Kopassus di Serang.
Sementara pengadilan Indonesia terus mengkriminalkan aktivis-aktivis
Papua, termasuk Filep Karma, yang menyebarkan sentimen kemerdekaan,
lewat pengibaran bendera. Indonesia melarang segala bentuk pengungkapan
ekspresi damai di Papua.
Kami bertiga hanya bisa termenung dalam toko Graha Budaya Indonesia.
Ketika membaca
Prosecuting Criminal Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners,
Seichi Okawa mengatakan kasihan begitu banyak orang Papua ditahan di
berbagai penjara Indonesia. Dia melihat gambar Filep Karma. Ferdinand
Pakage. Simon Tuturop. Buchtar Tabuni. Dia geleng-geleng kepala. Kami
menghabiskan kopi Wamena. Pamitan.
Izumi Kurimoto dan saya meninggalkan kantor Okawa-san serta menuju
stasiun Takadanobaba. Ketika jalan kaki, menelusuri jalan-jalan kecil,
saya pikir, selama empat dekade terakhir, saya heran bahwa dukungan
untuk merdeka tetap bertahan. Ketidakpercayaan orang Papua terhadap
pemerintah Indonesia makin hari makin menyebar. Mungkin karena orang
Papua kehilangan tanah-tanah adat bagi proyek-proyek pembangunan, dan
gelombang para pendatang dari Indonesia, terutama Pulau Jawa, tetap
jalan sesudah Presiden Soeharto mundur. Taktik umum yang dipakai para
pendukung kemerdekaan, dengan sederhana menaikkan bendera Bintang Kejora
dalam upacara terbuka, secara emosional memang
matching dengan
psikologi orang Papua. Saya tahu bahwa isu kemerdekaan bukan masalah
hukum sederhana. Papua secara legal adalah sah milik negara Indonesia.
Saya tak tahu hingga kapan perbedaan ini bertahan. Dan entah berapa
banyak orang Papua lagi akan dikorbankan.
III
PADA 3 Mei 2010, Dzulkiflry Imadul Bilad, seorang mahasiswa
Institut Teknologi Bandung, salah satu perguruan tinggi paling
prestisius di Pulau Jawa, menumpahkan kemarahan tentang kekalahan klub
sepakbola Persib Bandung terhadap Persipura Port Numbay dengan update
Facebook: “Dasar orang Papua, bisanya tarkam, pake otot bukan pake otak
maen bolanya, ga sekolah, bodo2 semua, udah item idup lai. Sialan lu
Papua!”
Status itu menyulut reaksi. Yohanes Okdinon, seorang mahasiswa Papua di
Bandung, menyebarkan kalimat Bilad, dalam jaringan Facebook. Bilad minta
maaf, sehari kemudian, juga lewat status Facebook. Sedikitnya muncul
500 kecaman terhadap Bilad. Bahkan dua minggu kemudian, Ikatan Mahasiswa
Papua Bandung bikin protes depan gedung ITB. Sekitar 100 mahasiswa
Papua minta ITB memberhentikan Bilad. Poster mereka berbunyi:
- “Rasisme Terhadap Orang Papua=Melanggar HAM orang Papua”
- “Tidak Ada Perbedaan Diantara Kita, Kita Satu RI”
- “Selama Anak-Anak Kandung Pertiwi Masih Rasis, Selama Itu Pula Bumi Pertiwi Indonesia Berjalan di Tempat”.
Komentar Yohanes Okdinon muncul di media. “Sebenarnya kita menyesalkan
kenapa pernyataan rasis seperti itu bisa keluar dari mahasiswa
universitas ternama,” kata Okdinon.
ITB memang salah satu perguruan tinggi paling utama di Indonesia. Ia
menghasilkan banyak menteri, pengusaha, insinyur, politisi dan
sebagainya. Alumnus ITB paling terkenal adalah Presiden Soekarno,
seorang insinyur teknik sipil, yang lulus dari ITB ketika masih zaman
Belanda. Namun presiden Keluarga Mahasiswa ITB Herry Dharmawan menolak
tuduhan Okdinon. Dia bilang Zulfikry Imadul Bilad murni kesalahan
pribadi. Ia tak mencerminkan ITB.
Okdinon mengatakan kasus Bilad menunjukkan sistem pendidikan di
Indonesia gagal mendidik murid untuk tak rasialis terhadap orang Papua.
Rektor ITB Akhmaloka memutuskan sanksi skors tiga semester dan kerja
sosial pada Zulfikry Bilad.
Dzulkiflry Imadul Bilad, tentu saja, bukan satu-satunya kasus rasialisme
terhadap Papua lewat Facebook. Pada 9 September 2010, empat bulan
sesudah kasus Bandung, seorang mahasiswi Universitas Indonesia, Chey
Nahumury, menulis:
"Orang negro dgn papua busuk tuh,,, beda kawan!!!!!!!!!!!! klo dorang
wangi, kam tuh kulit bau, apalagi ketiak, coba... ko buktikan sekarang
ko cium ko pu ketiak pasti bau tra enak."
Nahumury seorang mahasiswa Ambon, lulusan sekolah menengah di Abepura,
Papua. Universitas Indonesia juga termasuk perguruan tinggi paling
prestisius di Pulau Jawa. Ia cukup mengundang keramaian dalam Facebook.
Nahumury segera mengganti nama
account dia. Masalah ini tak mengundang protes sebesar ITB.
Saya pribadi tak heran bahwa ada mahasiswa-mahasiswa dari perguruan
tinggi terkemuka di Indonesia yang berpandangan rasialis terhadap
manusia Papua. Ia sama dengan rasialisme terhadap orang kulit hitam di
Amerika Serikat. Rasialisme Papua hal umum di Indonesia. Mereka dihina
sebagai orang hitam, orang bodoh, orang bau dan orang kasar. Pada 1994,
Dr. George J. Aditjondro, seorang cendekiawan Indonesia, menulis
berbagai kasus rasialisme Papua, dalam sebuah paper, “Menerapkan
Kerangka Analisis Frantz Fanon terhadap Pemikiran tentang Pembangunan
Irian Jaya.” Aditjondro menggunakan argumentasi Fanon, pemikir Aljazair,
yang bikin pengamatan di Aljazair dan Afrika Selatan, soal warna kulit,
kolonialisme dan rasialisme. Rasialisme ini mensyaratkan kebudayaan si
penjajah lebih tinggi dari kebudayaan si kulit hitam. Fanon mengatakan
bahwa kolonialisme selalu disertai rasialisme.
Saya kira penjelasan ini penting untuk menerangkan bagaimana mayoritas
orang Indonesia melihat Papua. Status Facebook Zulfikry Bilad dan Chey
Nahumury mencerminkan superioritas Indonesia terhadap Papua. Ia
mencerminkan rasialisme yang typical dari orang Indonesia terhadap orang
Papua. Ia juga menerangkan mengapa rasialisme ini penting ketika
Indonesia mengirim ratusan ribu migran ke Papua, termasuk orang tua Chey
Nahumury, guna mendirikan koloni-koloni Indonesia di Papua. Ini sama
dengan kolonialisme Eropa di Aljazair dan Afrika Selatan.
Heni Lani, mahasiswa Papua di Bandung, mengatakan, “Secara pribadi, saya
melihat, mengalami, merasakan dan menyadari bagaimana orang Papua terus
dipecah-belah dan dipermainkan dengan berbagai cara. Misalnya kebijakan
pemekaran, dana ototonomi khusus, 'perang suku', istilah gunung-pantai
dan lain-lain. Sa yakin, sodara-sodara yang lain juga mengalami hal yang
sama.”
Rasialisme ini umum terjadi di media Indonesia. Dr. Aditjondro menulis,
“Betapa populernya penggambaran tentang orang Dani sebagai ‘orang-orang
yang nyaris telanjang, yang masih hidup di zaman batu,’ tanpa menyadari
bahwa para petani di Lembah Balim, misalnya, memiliki budaya pertanian
ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan
adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam.” Di Facebook
milik “kawan-kawan” saya, ada saja gambar orang Papua pakai koteka
sambil pakai mobile phone. Ada koteka orang Dani dipasangi antena
telepon. Ada gambar perempuan Dani, dada telanjang, lagi mengetik
laptop.
Dalam film dokumenter
Strange Birds in Paradise karya Charlie
Hill-Smith, Prof. Arief Budiman, seorang cendekiawan Indonesia di
Melbourne University, mengatakan bahwa orang Papua masih “primitif” dan
memerlukan “teknologi dari Jawa.” Makin lengkaplah pandangan merendahkan
orang Papua, dari mahasiswa macam Bilad hingga profesor Arief Budiman.
Pada September 2010, secara acak saya google dua frasa: Metro TV dan
"perang suku." Metro TV adalah salah satu televisi terkemuka di Jakarta
dengan siaran seluruh Indonesia. Hasilnya, dalam waktu 0.25 detik, saya
dapatkan 3,260 referensi terhadap dua frasa itu.
Misalnya dengan berita berjudul, “Perang Suku di Kwamki Lama Kembali Pecah” pada 13 Mei 2010:
Metrotvnews.com, Timika: Perang antarkubu kembali pecah di Kwamki
Lama, Timika, Papua, Kamis (13/5) siang. Dua orang terluka dan dilarikan
ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika.
Keributan terjadi antara warga Mambruk dengan warga Tunikama. Dua
kelompok berseteru setelah warga Mambruk menyerang lawannya. Kejadian
berlangsung di hutan sejak pagi hingga siang. Kedua kubu sepakat tidak
ribut di jalan raya.
Padahal keributan terjadi antara dua kelompok, warga Mambruk dan warga
Tunikama, di kampung Kwamki Lama. Metro TV tak sebut bahwa ketika
Freeport mulai bikin penambangan, mereka menggusur kampung-kampung asli
Papua, serta menempatkan orang dari macam-macam kampung tersebut di
Kwamki Lama. Wajar bila sesekali terjadi salah paham di daerah Kwamki
Lama. Ia bukan masyarakat tradisional. Ia sudah masyarakat urban dengan
macam-macam warga dari macam-macam daerah. Metro TV menggambarkan
“Kwamki Lama” seakan-akan ia cermin Papua.
Heni Lani mengatakan bila ada keributan serupa di Jawa atau Sumatra,
media pakai istilah “kriminalitas” atau “perkelahian antar gang.” Namun
bila terjadi di Papua, media memberitakan sebagai “perang suku.”
Kesannya, orang Papua terbelakang, masih perang antar suku dan bodoh.
Pemberitaan ini merendahkan orang Papua. Ia tak beda dengan status Bilad
dan Nahumury. Ia membenarkan sikap pemerintah Indonesia untuk melakukan
“pendidikan yang keras” terhadap orang hitam, orang bodoh, orang kasar
dan bau.
Kontributor Metro TV di Timika Alfian Pakadang mengatakan pada saya,
“Itu kesalahan redaksi. Saya tidak memakai istilah perang suku. Saya
pakai istilah ‘bentrokan antar kelompok’ atau ‘antar warga.’” Ini
ketidaktahuan mereka. Saya selalu jelaskan bahwa ini tidak jauh beda
dengan tawuran-tawuran di mana-mana. Ini bukan perang suku. Ini
gabungan-gabungan orang.” Pakadang bilang terminologi “perang suku”
adalah istilah yang rasialis. Dia tak mengerti mengapa redaksi Metro TV
di Jakarta selalu pakai terminologi “perang suku.”
Contoh lain adalah buku terbitan Kopassus pada Desember 2009 berjudul
Kopassus untuk Indonesia
karangan Iwan Santosa dan E.A. Natanegara. Ia menggambarkan Kopassus
sebagai sebuah organisasi yang sudah berubah, sudah belajar hormat hak
asasi manusia. Ia juga menyesal Kopassus terlibat dalam penculikan
mahasiswa pada zaman Presiden Soeharto. Ia juga cerita bahwa sekitar
1,000 dari 5,000 prajurit Kopassus ditugaskan di Papua … dan mereka
sudah bisa bicara dialek Papua. Namun ada satu kasus besar sama sekali
tak disebut buku tersebut: Theys Eluay. Ia mengesankan bahwa pembunuhan
Eluay tidak penting. Ia mengesankan tak ada penyesalan dari Kopassus
terhadap pembunuhan Theys Eluay. Buku tersebut terbitan Red & White
Publishing, sebuah perusahaan Jakarta, yang diberi mandat oleh komandan
Kopassus Mayor Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Saya wawancara Iwan
Santosa, seorang wartawan
Kompas, namun dia menolak keterangan dia saya kutip.
Lengkaplah sudah. Dari mahasiswa hingga profesor, dari wartawan hingga
tentara. Saya kuatir Frantz Fanon perlu sedikit revisi analisis dia.
Rasialisme-cum-kolonialisme bukan saja terjadi antara orang kulit putih
dan kulit hitam. Tapi juga kulit coklat terhadap hitam.
Benarlah argumentasi Ernest Renan, pemikir nasionalisme dari Brittany,
Prancis, bahwa jangan karena warna kulit sama, atau hampir sama, maka ia
sekaligus jaminan mereka satu “bangsa.” Kolonialisme dengan beda
sedikit warna kulit lebih sulit dimengerti daripada kolonialisme kulit
putih terhadap kulit hitam. Nasionalisme Indonesia sudah gagal ketika ia
membiarkan rasialisme tumbuh dari kelompok mayoritas terhadap kelompok
minoritas --sesama kelompok masyarakat dalam negara Indonesia.
Nasionalisme sebaiknya tak didasarkan pada kesamaan warna kulit … namun
kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita.
IV
PADA 17 Agustus 2009, ketika hendak berkunjung ke penjara
Cipinang di Jakarta, tiba-tiba saya dapat pesan dari Filep Karma. Suara
lirih. Dia bilang dia kesakitan, nyaris tak bisa kencing selama lima
hari. Tampaknya, ada sesuatu yang tidak beres dengan saluran kencing
dia.

Saya
tanya apakah sudah minta izin berobat? Karma mengatakan kepala sipir
penjara Anthonius Ayorbaba memerintahkan Karma dibawa ke klinik penjara.
Perawat klinik cuma menganjurkan Karma minum banyak air dan tiduran
dengan kaki diangkat. Saya kecewa sekali. Saya tahu narapidana berhak
mendapat perawatan dalam penjara. Untungnya, hari itu, ada seorang
wartawan Bintang Papua Hendrik Yance Udam memotret Karma dengan kaki
diangkat dalam sel yang berantakan. Keesokan hari, gambar tersebut
diterbitkan Bintang Papua dan Ayorbaba terpaksa setuju membawa Karma ke
rumah sakit Dok Dua, Port Numbay.
Dokter Dok Dua mengobati Karma beberapa waktu antara Agustus dan Oktober
2009. Dalam sebuah surat bertanggal 5 Oktober 2009, Dr. Mauritz Okosera
dan Jhon Sambara, masing-masing kepala unit pemindahan pasien dan
kepala administrasi rumah sakit Dok Dua, menulis kepada PT Asuransi
Kesehatan Indonesia, sebuah perusahaan asuransi, menyatakan bahwa pasien
Filep Karma harus dibawa ke Rumah Sakit PGI Cikini di Jakarta guna
operasi urologi. Pada 11 November 2009, Dr. Donald Arronggear dari rumah
sakit Dok Dua memerinci hasil tes medis Karma yang dilakukan di rumah
sakit selama dua bulan. Dia merekomendasikan Karma secepatnya dibawa ke
unit pengobatan urologi modern di Jakarta.
Karma membuat surat, minta kepada Ayorbaba agar bisa dibawa ke Jakarta
guna menjalani operasi. Ayorbaba mengatakan kepada anggota keluarga
Karma bahwa dia tak punya wewenang memerintahkan pemindahan semacam ini.
Dia juga menambahkan pemerintah Indonesia tak punya uang guna mengobati
Karma ke Jakarta.
Ayorbaba mengatakan agar Karma minta izin pemindahan ke Nazarudin Bunas,
kepala Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia di Port Numbay. Pendek
kata, selama beberapa bulan, Filep Karma dipingpong dari sana ke sini,
dari sini ke sana. Uang selalu jadi masalah.
Sekelompok aktivis dari Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Papua mulai
menggalang dukungan pada 8 Maret 2010. SKPHP minta sumbangan terbuka di
jalan-jalan, guna membantu pengobatan Filep Karma dan Ferdinand Pakage.
Mereka mengumpulkan Rp 25 juta dalam dua hari pertama penggalangan dana.
Mereka bilang sumbangan paling banyak berupa pecahan uang Rp 100 ribu.
Ada juga kawan lama Karma sumbang Rp 40 juta. Namun Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia serta Ayorbaba tetap menolak untuk proses izin
berobat itu.
Pada awal Mei 2010, pemerintah Indonesia mengirim kepala penjara baru,
Liberty Sitinjak, menggantikan Ayorbaba sebagai kepala penjara Abepura.
Sitinjak terkaget-kaget ketika tahu bahwa tak ada berkas Filep Karma
dalam file peninggalan Ayorbaba. Pergantian ini, dari Ayorbaba, yang
orang Papua, kepada Sitinjak, yang orang Batak, membuka jalan untuk
pengobatan Filep Karma ke Jakarta. Sitinjak mengurus prosedur
pengobatan. Ayorbaba meradang dan menolak dipindah ke Sumatra.
Karma sendiri menolak berangkat ke Jakarta bila Ferdinand Pakage tak
ikut diberangkatkan. Dia bilang Pakage sakit lebih lama daripada dia.
Beberapa aktivis dan keluarga Pakage membujuk Karma berangkat lebih dulu
karena dia sudah lebih berumur daripada Pakage. Ferdinand Pakage juga
perlu diperiksa lebih dulu di rumah sakit Dok Dua. Akhirnya, Karma
bersedia berangkat ke Jakarta.
Tokoh
Papua Filep Karma menjalani perawatan prostate di rumah sakit PGI
Cikini, Jakarta, selama 11 hari. Seorang perawat mengecek tekanan darah
Karma sesudah operasi. ©2010 Ricky Dajoh
Saya ikut menyambut kedatangan Filep Karma di airport Jakarta pada 19
Juli 2010. Dia datang bersama ibunya, Eklefina Noriwari, seorang paman,
seorang sepupu, asisten dan asisten Karma, Cyntia Warwe, serta dua
petugas penjara Abepura dan polisi Port Numbay. Serah terima dari
petugas Abepura kepada petugas penjara Cipinang, yang secara resmi
mengampu Karma selama di Jakarta, dilakukan langsung di rumah sakit
Cikini.
Dokter David Manuputty, seorang spesialis urologi, yang sudah bikin
pencangkokan ginjal lebih dari 400 kali, langsung melakukan pemeriksaan
di Cikini. Karma dapat cek darah, tekanan jantung, rontgen, CT Scan, USG
dan sebagainya. Menurut Cyntia Warwe, dokter Manuputty mengatakan Karma
ternyata diet dengan ketat, selalu minum air dan tak makan daging merah
(hanya ikan). Diet ini menyelamatkan nyawa Karma. Biasanya orang dengan
prostate acute sudah stroke. Manuputty mulanya kuatir prostate ini
sudah mempengaruhi ginjal.
Pada 22 Juli, Manuputty melakukan bedah laser prostate selama dua jam.
Manuputty tak pakai pisau bedah. Dia memasukkan sebuah alat ke dalam
prostate Karma. Ada benjolan daging dalam prostate, yang menutup saluran
kencing, dipotong dan dibelah-belah lewat bantuan kamera kecil dan
laser. Dia perlu tiga hari lagi untuk recovery. Kencing masih berdarah
dan keluar potongan daging lewat saluran kencing. Karma sempat minta
seseorang menunjukkan foto prostate kepada saya.
Empat hari kemudian, Manuputty menyatakan operasi berjalan lancar dan
berhasil. Air kencing Karma sudah jernih. Dari hasil rontgen, dokter
juga menemukan bekas patah tulang tetapi sudah sembuh walau tak
sempurna, tampaknya dampak dari Karma terjatuh di penjara Abepura.
Operasi prostate selesai. Namun, rombongan perlu empat hari lagi
menunggu penerbangan pulang sekaligus mengurus pengawalan dari pihak
Cipinang. Beberapa kawan lama dia datang bezoek ke rumah sakit. Saya
juga datang membawa makanan dan bacaan. Karma terlihat gembira. Dia
sering tertawa dan bergurau.
Dia mengatakan pada saya jumlah orang asli Papua terancam dengan
kedatangan jumlah migran Indonesia, secara besar-besaran, sehingga
kebudayaan Melanesia tertekan oleh kebudayaan migran. Dia bilang pada
sensus 1971, jumlah penduduk asli Papua sekitar 900 ribu dari total
hampir sejuta orang. Orang Papua sekitar 90 persen. Kini jumlah tersebut
kurang dari 50 persen dari lebih 3 juta warga total Papua. Dia bilang
orang Papua menerima migran. Namun tidak dalam jumlah dan dominasi
sebesar sekarang (Sensus 2010 mengatakan total warga Papua 3.9 juta dan
penduduk asli diperkirakan 49 persen. Papua adalah daerah dengan
pertumbuhan penduduk paling tinggi di seluruh Indonesia).

Dia
bilang dia ingin kelak, bila Papua jadi negara berdaulat, ia juga tetap
terbuka terhadap para migran Indonesia, yang sudah lahir dan hidup di
Papua. Perjuangan dia bukan perjuangan yang rasialis. Dia tunjukkan pada
saya beberapa kawan sekolah dia, ada orang Minahasa, Batak maupun Jawa,
bezoek ke rumah sakit. Dia juga sadar betapa banyak politikus Papua
baku hantam, besar ego dan selalu berebut cari nama.
“Saya pernah bilang pada anak-anak Parlemen Jalanan. Bila Papua merdeka,
saya ingin nama saya dihapus dari sejarah perjuangan bangsa Papua. Biar
anak saya atau cucu saya tidak manfaatkan nama bapa atau opa mereka
untuk cari jabatan atau penghargaan. Saya sedia mati demi rakyat Papua.
Bukan cari jabatan. Bukan cari nama,” katanya.

Audryne,
putri sulung Karma, mengatakan pada saya, "Satu pesan Bapa yg selalu
saya ingat, "Lebih baik jadi berguna daripada jadi hebat. Hebat belum
tentu ko bisa bantu banyak orang. Dan ingat selalu bersyukur sama
Tuhan."’
Penjagaan di rumah sakit, tentu saja, cukup ketat. Selain dijaga dua
petugas Cipinang, Filep Karma juga dijaga polisi Jakarta Pusat serta
Badan Intelijen Negara. Keluarga Karma, termasuk Audryne dan adikknya,
Andrefina, juga menjaga dengan bantuan mahasiswa Papua di Jakarta.
Mereka berdua kuliah di Bandung. Filep Karma kembali ke penjara Abepura
pada 30 Juli 2010.
Saya senang Filep Karma dapat pelayanan bermutu di Jakarta. Dia lega
karena dia diperlakukan beda dari Dr. Tom Wanggai. Namun Karma hanya
satu dari banyak orang Papua yang jadi korban pelanggaran oleh
Indonesia. Dan Karma juga masih tetap berada di penjara hingga tahun
2019. Dia konsisten menolak remisi karena secara tersirat ia berarti dia
mengakui dia bersalah. Karma memang tidak bersalah. Dia dipenjara
secara tidak adil. Saya kira perlu lebih banyak lagi kampanye dan kerja
untuk mendesak pemerintah Indonesia membebaskan tapol macam Filep Karma.
Dan tentu perlu ada perbaikan cara berpikir di Indonesia dalam
memandang Papua.
Beberapa Link Terkait
Freedom Now: Filep Samuel Karma
Opini UN Working Group on Arbitrary Detention
Video Amnesty UK: Making the Invisible Visible
Surat 26 Anggota Kongress Amerika Serikat
Video: James Madison High School Concert "Free Filep Karma"