Headlines

Tokoh Gereja Afrika akan Bawa Isu Papua ke AS

Posted by Admin: | Kamis, 10 Maret 2016 | Posted in , , , , ,

Pendeta Fred Deegbe, mantan Ketua Ghana Baptist Convention dan pendiri gereja Calvary Baptist Church(kiri), mengatakan akan membawa isu Papua ke pertemuan gereja di AS (Foto: gospelcrusader.com)
ACCRA, SATUHARAPAN.COM - Salah seorang tokoh gereja Afrika, Pdt Dr. Fred Deegbe, berjanji akan mengangkat isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua dalam pertemuan raya gereja di Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Deegbe, pendeta senior pada Calvary Baptist Church dan mantan ketua Dewan Kekristenan Ghana (Christian Council of Ghana, CCG), mengatakan hal itu dalam pertemuannya dengan Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda.

Sebagaimana dilaporkan oleh ghanaweb.com, Benny Wenda mengunjungi Ghana dalam rangka menghadiri peringatan ulang tahun ke-59  kemerdekaan negara itu pada 6 Maret lalu.

Pendeta Deegbe bahkan mendoakan rakyat Papua dan Benny Wenda atas kedatangannya ke Ghana. "Tuhan menciptakan manusia dan Dia menginginkan manusia di mana pun untuk merdeka," kata dia.

Deegbe berjanji akan mengangkat isu Papua pada pertemuan gereja di AS.

Sementara itu, mengatasnamakan rakyat Papua, Benny Wenda pada kesempatan tersebut memohon pejabat pemerintah dan pemimpin Ghana untuk membantu ULMWP dalam upaya mereka untuk bergabung dengan PBB.

Benny Wenda yang pernah dinominasikan untuk menerima hadiah Nobel  untuk bidang perdamaian, bertemu dengan sejumlah pemimpin Ghana, di antaranya dengan dua mantan presiden Ghana, yaitu John Agyekum Kufuor dan Jerry John Rawlings.

satuharapan.com mencoba mengubungi Benny Wenda, tetapi belum ada respons.

Sementara itu, Sekjen ULMWP, Octovianus Mote, lewat pesan singkat mengatakan dirinya juga akan mengadakan diskusi di New York membicarakan masalah Papua. Salah satunya adalah mengenai laporan genosida di Papua oleh Gereja Katolik Keuskupan Brisbane dan satu topik lain.

Kufuor dalam pertemuan dengan Benny Wenda menyerukan dukungan terhadap pembebasan rakyat Papua.

"Sangat penting bahwa kemanusiaan harus menjadi pusat dari segala sesuatu. Sebagai seorang manusia, Anda memiliki hak kemanusiaan," kata Kufuor.

Kufuor juga meyakinkan Benny Wenda bahwa ia akan berhasil dan seluruh dunia mendukung dia.

"Indonesia bahkan tidak dapat menghentikan Anda," kata dia.

"Ghana pernah menjadi negara koloni selama 100 tahun,  Apa yang Anda kerjakan sudah benar," lanjut Kufuor kepada Benny Wenda.

Menurut dia, meskipun jarak Ghana dan Papua jauh, pada dasarnya mereka adalah sama.
"Sangat jelas, Anda bukan orang Indonesia."

Rawlings juga telah menjanjikan dukungan bagi perjuangan ULMWP. Dia mengatakan "kami merasa terhormat untuk memperjuangkan rakyat Anda. Kita mengalami sejarah yang mirip."

"Tidak mengherankan bagi saya Anda mendapat dukungan dari Ghana di PBB pada tahun 1969 dan kami juga menerima pengungsi Papua pada tahun 1980," kata Kufuor.

"Afrika Barat telah mengalami perbudakan, perjuangan melawan kolonialisme dan merdeka."

Ia juga menyarankan agar Benny Wenda melobi semua anggota kongres, senator dan wakil rakyat berbagai negara dan organisasi dunia.

Di antarnya adalah melobi Uni Eropa, Uni Afrika dan  organisasi lainnya.

"Terus lah ketuk dan ketuk lagi, jangan biarkan mereka tertidur," kata Kufuor.


Editor : Eben E. Siadari

Sekjen ULMWP: Selamat Jalan Okto, Bangsa Papua Pasti Merdeka

Posted by Admin: | Senin, 01 Februari 2016 | Posted in , , , , , , ,

 foto alm ;oktovianus pogau                                             
Dalam perjuangan bangsa papua menuju kemerdekaan, gugurnya satu atau beberapa orang pejuang merupakan hal yang biasa. Ketika seseorang memutuskan untuk ambil panggilan pengabdian itu sebagaimana Kristus memutuskan memikul salib di taman getsemani, banyak anak negeri Papua yang tahu akan konkwensi itu dan lakukan tugasnya dengan berani. Secara berturut-turut kita kehilangan Pemimpin gerilyawan di hutan dari Brigjen R. Yoweni dari wilayah adat Mamta hingga dari pedalaman Papua, Meepago.

Pagi ini, ketika saya bangun tidur di sebuah negeri kecil di tengah lautan Pasifik di kejutkan oleh berita duka akan Oktovianus Pogaw, seorang adik wartawan yang lincah, cerdas dan yang amat penting adalah kritis. 
Seorang Wartawan sejati. Okto meninggal di rumah sakit Dian Harapan yang terletak di pinggir rumahku di tanah Papua. 
Berita ini membuat   saya amat sedih dan batal ikuti sebuah morning devosion disebuh kantor gereja yang selalu saya ikuti mana kala berada di negeri ini. Doa dan dan terutama pujian pagi dengan irama lautan pasifik yang merdu dalam beberapa suara yang mengalir spontan tidak mampu membendung ke sedihan hati yang mendalam.


Berita ini laksana kilat di tengah hari ketika hati saya belum lagi terobati karena minggu lalu di Sorong, bangsa papua juga kehilangan seorang Tokoh Papua, Johanis Goram. Seorang pemimpin Bangsa Papua dari gugusan kepulauan Raja Ampat yang amat berani bukan saja dalam menyatakan aspirasi politiknya namun juga ketika mengambil keputusan menyangkut pilihan hidup. 
Dia meninggalkan segala kemewahaan di Perusahaan Freeport dan memilih pulang kampung Sorong dan bangun masyarakat dan movement di daerah Kepala Burung. Kepada Abram Goram adiknya, dari Brisbane Australia saat memimpin Solidarity Group saya hanya bisa mengirim pesan di facebook kata turut berduka. Sama dengan saat keponakanku di Nabire menyampaikan berita kematian Johana Mote, kaka perempuan tertua.

 Cuma terhentak sebentar, air mata mengalir dan bangkit lagi sesuai pesannya 1 minggu sebelum saat dia dengan sukacita bergabung dengan orang-orang yang dia cintai: ayah kami Didimus Mote, suaminya Natalis Pakage dan tentu saja kaka tertua kami, Romo Jack Mote, Pr. Dia berkata, adik saya tidak akan mampu lawan yang ini, saya akan pergi tapi lanjutkan apa yang adik sedang lakukan karena itu penting untuk bangsa kita. 


Saya tahu Goram pun akan berkata sama bila saja saya berkesempatan ngobrol dengan dia sebelumnya sebagaimana berkali-kali saya senantiasa lakukan, up date perkembangan di luar. Dia akan kumpulkan masyarakat, dengar cerita perjuangan ibarat nafas yang menguatkan mereka dalam hadapi ekspansi kolonial Indonesia yang setiap hari membanjiri negeri kami. Saya bicara dengan adik Okto pogau yang terakhir kalinya ketika ia berkunjung ke Amerika. Hampir setiap malam kami dua ngobrol melalui telpon berjam-jam sekalipun dia terbang dari satu kota ke kota lain. kami campur dalam 3 bahasa, mee mana, indonesia dan disisipi bahasa Inggris sana sini. kami bicara banyak ide dan rencana. Dia share begitu banyak inside info dan sebagainya dan sebagainya. Di setiap kota yang dia lampui saya sarankan siapa yang patut dia temui dan dalam konteks apa?


Adik Okto, si senama ini saya kenal sejak dia masih duduk di Sekolah Menengah Atas di Kota Nabire. Kami bersahabat dan akrab apalagi sesudah Agus Sumule menceritakan siapa Okto dan segala puja puji akan kelebihan anak ini yang tidak perna saya ketemu in person. Ketika itu, kepada Okto saya tanya segala sesuatu dari urusan politik di DPRD dan masyarakat hingga urusan masyarakat. Mendengar semua penjelasannya, kita tidak akan percaya bahwa yang kita ada lagi bicara ini cuma seorang anak SMA. Pikiran yang begitu dewasa, dirangkai dalam rasional berpikir yang tersusun rapi dan jernih dan sungguh-sungguh kritis. maka tidak heran bila anak mudah ini dalam usia yang begitu muda, bikin banyak peristiwa bersejarah yang akan dikenang oleh bangsa papua.


Document terakhir yang Okto kirim kepada saya adalah Laporan Lengkap BIN yang memetakan seluruh pejuang Papua baik didalam dan luar negeri. Laporannya saya kirim ke beberapa lembaga dan meminta mereka menerbitkannya. Laporan itu tentu saja menjadi document tidak terbantahkan yang kami pakai dalam diplomasi internasional akan perilaku kolonial Indonesia. Pagi ini, ketika saya mendengar kematiannya, saya juga mendengarkan wawancara di ABC TV 7:30 program. Dalam program bergengsi itu diwawancarai Dr Jame Elmslie dari Universitas Sydney mengenai dokumen BIN yang bocor dan jatuh di tangan kami. Tentu saja, James Elmslie tidak menyebutkan nama sumber utamanya sesuai permintaan saya dan juga demi keselamatan Okto. Kemarin, saya juga di kabari bahwa Departmen Luar Negeri Indonesia membunuh secara tidak langsung suara Papua, media internet yang Okto dirikan dan kelola secara sangat profesional. Teman itu berkisah bahwa Suara Papua tidak akan bisa terbit lagi dan nyawanya mulai terancam terkait dengan dokumen BIN yang dia kirim tersebut. Dan pagi ini, bukan hanya medianya, Suara Papua yang mati dibunuh tetapi saya di kejutkan oleh kematiannya.


Selamat jalan my friends. Walau kita terpaut jauh dari sisi usia you are really my friends. Kami dua diskusi, baku ganggu dan kadang saya marah tetapi kemarahan itu adik terima secara dewasa. Kepadamu saya cari berita di balik berita, sekalipun saya tahu semua yang sudah diturunkan di Suara Papua adalah suara rakyat Papua, suara kemerdekaan papua. Adik tidak memilih kehidupan yang mewah dengan bekerja di surat kabar yang kaya raya dengan segera selesaikan sarjana karena itulah syarat menjadi wartawan saat ini. 


Tidak. Seakan adik tahu perjalananmu akan begitu singkat di bumi ini, adik memilih berhenti dari kuliah dan fight di jalan dengan pena sebagai Wartawan dan suara sebagai aktivis di jalan hingga masuk hutan membakar gerilyawan TPN OPM di kampung kita. Dan lebih lagi adik adalah anggota PIS, Papua Intelligent Servis walau tidak ada yang mengangkatmu. Tapi semua document dan cerita yang adik kirim membuktikan kehebatanmu. Semua itu sudah menjadi modal kami dalam melanjutkan diplomasi di luar negeri.


Adik Okto, saya cuma hendak berkata, Kita, Bangsa Papua PASTI akan merdeka. Ini cuma masalah waktu saja. Weneka, selamat jalan dengan damai. Canda dan ketawamu yang bebas apalagi karyamu akan abadi ditengah kami, rekan-rekan wartawan, teman-teman aktivismu dan apalagi di kalangan orang Mee dan Moni serta bangsa papua.


Oleh : Sekertaris Jendral (Sekjen) ULMWP, Octovianus Mote 


Sumber: suarakolaitaga

PM Vanuatu addressed UN to see and speak about human rights in Indonesia...

Posted by Admin: | Jumat, 08 Januari 2016 | Posted in , , , ,

                                                          



                  PM Vanuatu Angkat Pelanggaran HAM Papua Di Jenewa

Hak CIPTA © :


Hadirnya hari Hut Bangsa Papua Barat tanggal 1 Desember

Posted by Admin: | Rabu, 25 November 2015 | Posted in , ,

     Hadirnya hari Hut Bangsa Papua Barat tanggal 1 Desember. Hari ini adalah hari yang nanti-nantikan oleh pemuda-pemudi bangsa Papua Barat. Hari ini juga adalah hari yang memberikan sebuah spirid semangat untuk menumbuhkan nasionalisme dan Revolusi bagi pemuda Bangsa Papua Barat. Dan juga Hari itulah hari lahir pemuda-pemudi Papua Barat yang mempunyai semangat untuk merubah Dunia. Pemuda Papua Barat merubah Dunia itulah Gerakan Revolusinya.
    Revolusi Pemuda Papua harus hadirkan kita untuk mengrefisi kembali jika selama ini ada kebimbangan terhadap jiwa dan raga Kita Pemuda, sebagai Bangsa Papua Barat. Jika kita dihitung pake jari kita perlukan puluhan ribu jarum jam untuk mendapatkan jawabannya, sebab mulai dari sejak tahun 1969 sampai saat ini adalah bukan main-main tragedinya. Teragede-tragedi Bangsa Papua Barat adalah tragedi yang bangsa lain belum pernah alami. Tahun 1969 sampai sekarang adalah bukan kurung waktu yang singkat, bukan pula juga perjalanan singkat seperti Kota Oyehe Nabire menuju Pasar Karang Nabire Papua. Perjalanan ini bukan juga perjalanan yang singkat dan bukan juga jalan sepintas. Dengan ini maka Negeri papau Barat (Tanah Papua) bukan jadikan tempat singga-singga bangsa-bangsa luar untuk mengesploitasi kekayaan. 
    Negeri papua bukan juga tempat penghuni bangsa Luar yang mencari kepentingannya, tetapi Tanah Papua Barat adalah Tanah Adat bangsa Papua Barat. Namun demikian, Pembunuhan dan perampasan masih berkeliharan di tengah-tengan kita pemuda Bangsa Papua Barat. Maka dengan ini Pemuda Papua Barat harus semangat untuk menggerakan Revolusi. Tahun lahir Tahun 1969 adalah terbukalah puluhan ribu belenggu mengadang pemuda-pemudi bangsa Papua Barat. Dan tahun itu pula muncul budaya baru di bumi Papua, terutama ada kekacauan, penindasan, perampasan, pemerkosaan, terhadap pemuda-Pemudi papua, dan jika ada rasa Pemuda Papua Barat Kau dihinaan, Kau difitnahan, Kau dibodohi, Kau dikecili, Kau disiksai, Kau dimenyakiti, Kau dimonopoli, Kau diramasi, Kau dipenjari bahkan Kau di bantai dan dibunuhi dari bangsa lain (bangsa jajahan), Apa solusi terpenting bagi kita Bangsa Papua Barat?. “Pemuda Papua Barat Harus Bersatu Untuk Menggerak Revolusi.”
     Pemuda Papua Perlu benahi dan harus ada Revolusi kembali ketidak inginan yang terjadi selama ini. Dengan hadirnya hari hut bagi bangsa papua barat 1 Desember memberikan semangat mendorong pemuda menjaga menjadi Agen-agen peggerak Revolusi untuk menciptakan dan mencapai visi “Kemerdekaan itu sendiri”. Tanggal 1 Desember inilah memberikan semangat Nasionalisme di diri pribadi bagi pemuda Papua Barat sebagai pemuda merubah Dunia, sebab pemuda Papua Barat adalah Tulang punggung dari Bangsa Malanesia (Papua). Bangsa papua barat inilah yang mempunyai perkumpulan pemuda yang berdasarkan ideologi yang berbeda tapi mempunyai satu tujuan “Ingin Bebas”. Pemuda Papua ingin bebas dari penyiksaan, dari Perampasan, dan dari pembunuhan. Saya lahir bukan untuk mengambil kesengsaraan melainkan Saya lahir untuk merubah kehidupan yang layak mandiri  dan berdiri sendiri. Peganglah Visi ini, Jika kau pemuda Papua Barat.

Pemuda Papua Barat Harap Pahami 
      Bangasa Papua Barat selama masih berada dalam Cengkeraman Pemerintah Indonesia tidak akan bertumbuh, berkembang dengan membangun papua dengan percaya diri dalam berbagai bidang, sosil politik, ekonomi, pendidikan serta Budaya, dan selama indonesia masih berada dalam Papua hanya ada kata “ Saya Perlu Kau Untuk Diramas”, inilah perkataan Pemerintah Indonesia.
    Pemuda-pemudi Papua Barat tahu bahwa hari kebangsaan bangsa papua barat adalah tanggal 1 Desember. Hari itu pula disini menjelaskan dan mengajak kita “Hargai hari Hut Kebangsaan, Pembebasan bagi Bangas Papua Barat karena hari itu adalah hari terjadinya Revolusi bagi Bagsa Papua Barat secara luas dan utuh.” Dengan adanya pemuda pemudi Papua Barat kita bisa bekerja untuk merubah bangsa Papua Barat secara revolusi. Cara-cara merubah untuk Gerakan revolusi Pemuda Papua Barat, disini ada beberapa cara yang hadir untuk bergabung Gerakan bagi bangsa Papua Barat adalah sebagai berikut:
1.    Hargai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Barat tanggal 1 Desember, di seluruh tanah Papua, jika kau tidak hargai kau bukan termasuk bangsa papua Barat.
2.    Hargai Hari, Hari Besar HAM Se-Dunia 10 Desember di seluru Dunia, jika kau tidak di hargai kau bukan dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan.
3.    Hargai Hari Masuk Trikora di Tanah Papua Tanggal 19 Desember di seluruh tanah Papua, jika kau tidak dihargai kau bukan bangsa Papua Barat.
     Hari-hari ini perlu diperingati seluruh Tanah Papua, karena hari-hari ini adalah hari yang disiksa dan dibunuh palawan-Palawan Bangsa. Mereka disiksa dan dibunuh palawan-palawan kita buak karena mereka merampas barang besar dan barang berharga dari Negara tetapi, mereka disiksa dan dibunuh karena mereka mencari keadilan Dan Kebenaran dari Kaum tertindas. Oleh karena itu Pemuda Papua Barat harus membentuk satu tim revolusi untuk menjalankan tugasnya, mengawasi. 

Tugas Utama Dari Tim Revolusi Pemuda Papua
    Tugas utama dari satu tim/ revolusi papua barata adalah hargai hari bagi pahlawan kita yang telah dibunuh oleh negara biadab di Dunia  ini, Negara biadab membunuh palawan kita, karena mereka korban demi kaum tertindas, kaum dianiaya, kaum disiksa, kaum dirampas, kaum dibantai, dan dibunuh maupun diramas.  tujuan utama tim Pemuda revolusi adalah agar di Papua Mengadirkan Revolusi Pemuda Papua yang berdasarkan ideologi kemanusiaan. 
       Hari-hari kemanusiaan dan juga pemuda gerakan revolusi Papua Barat melakukan pengamanan untuk melarang keras Bekerja, baik itu Bekerja di Kantor maupun Pedagang-pedagang kaki 3, kaki 4, dan sebagainya, kecuali Kanto Bupati dan Kantor DPR karena mereka yang menerima Aspirasi dari masyarakat, kantor yang selain dari kedua kantor ini jangan dikerjakan tanggal-tanggal/hari besar. Pemuda penggerak Revolusi harus turun lapangan untuk menjaga mereka yang kerja di berbagai ling.
      Hari kerja adalah hari-hari lain bukan hari ketiga ini, Tangga 1 Desember, 10 Desember, dan 19 Desember. Hari tanggal ini adalah Pahlawan-pahlawan mereka mati diatas kamu, kamu tidak hargai, ” Kau buang Kemana Logika-Mu Yang Sebenarnya,  jika kau tidak dihargai.” Ketiga hari diatas ini kita tunduk dan dihormati, agar kejiwaan kehormatan kemanusiaan kita terhadap orang lain bisa tumbuh dan berkembang di jiwa raga kita manusia.

Pemuda Sebagai Ujung Tombak Penerus Bangsa Papua Barat 

     Bangsa Papua barat  mempunyai perkumpulan pemuda yang berdasarkan kebangsaan, dan mempunyai  ideologi nasionalisme Papua. Dengan adanya pemuda, Papua Barat sangat menginginkan persatuan yang diperkuat dengan memperhatikan dasar pengetahuan. Tapi benarkah hal ini adalah jalan terbaik yang diharapkan oleh bangsa Papua Barat yang selama ini makin memburuk?. 
    Pemuda Papua Barat selama ini jalan hidup seperti orang yang tak punya keberadaan, otoritas. Keberadaan (Otoritas) bangsa Papua Barat diinjak-injak, keberadaan pemuda Papua dianiaya, hal ini terjadi karena belum adanya kebersamaan bagi bangsa Papua Barat. Bangsa Papua Barat mempunyai sejarah yang jelas untuk menyikapi Otoritas kebangsaan yang dijiwai kemanusiaan. Hal inilah pemuda-pemudi bangsa Papua Barat harus benahi dan direvisi kembali demi terwujutnya Gerakan Revolusi pamuda Papua Barat secara utuh. Pemuda Papua Barat sebagai ujung tombak Bangsa Papua Barat maka perlu persatuan demi Negeri ini. Negeri Papua Barat yang selama ini diniaya, disiksa, diramas, bahkan dibunuh, ini terjadi karena belum ada cerah untuk mempersatuhkan pemuda-pemui di Negeri ini (Papua).

Apa Arti Sebenarnya Tanggal 1 Desember Itu,!! Pemuda Papua? 

     Tanggal 1 Desember 1969 adalah tanggal yang keluar dari Ketertindasan, Kemiskinan, Kebodohan, Ketelanjangan, Kepenjaraan, Perampasan, Pemerkosaan, dan Pembunuhan. Dan itu memiliki arti penting dalam diri yaitu menyatukan langkah para pemuda-pemudi Bangsa Papua Barat. Disitulah lahir di dalam bela terhadap bangsa yang konteksnya waktu itu di dalam mengusir penjajahan.  Akan tetapi, kalau kita tarik pada masa sekarang, tentu  tanggal 1 Desember adalah pemuda Papua memberikan suatu momentum semangat yang dapat meningkatkan Nasionalisme pemuda sebagai pemuda Papua Barat, dan sebagai pemuda-pemudi Papua Barat yang tahu keberadaannya, jadi bagaiman pemuda ini benar-benar menjadi ujung tombak di dalam pembangunan bangsa kedepan, dan memberikan situasi yang indah dari tanggal 1 Desember  itu sendiri?. Kau pemua papua sudah lewat hidup dalam kepenjaraan, hari lairnya tanggal 1 Desember adalah hari lahirnya Kebesaran dan kebebasan dari kepenjaraan. 
    Pemuda papau barat harus diskusikan mengenai hari lahirnya 1 Desember itu, sehingga konteks sejarah tidak di pendam dalam Pemuda-pemudi bangsa Papua barat. Dengan terjadinya mendiskusikan menegnai 1 Desember 1969 maka akan hadir Nasionalisme di tengah-tengah di diri pribadi terhadap pemuda-pemudi bangsa papua barat. Jika hadirnya mendiskusikan mengenai 1 Desember maka akan ada cerah dan Revolusi untuk merubah ketelanjangan praturan yang sedang menyiksa bangsa Papua Barat ini.
     Strategi merubah akan ada,  jika kita pemuda duduk dan berbicara bersamaa  mengenai 1 Desember ini, maka disitulah revolusinya. Pemuda-pemudi bangsa Papua Barat jangan berfikir bahwa tidak ada diskusi akan ada solusi yang terbaik bagi bangsa Papua Barat. Selama ini bangsa Papua Barat cukup lama hidup dalam tekanan-tekanan baik dari Pemerintah Indonesia maupun dari Bangsa luar yang sedang merampas kekayaan, maka dengan ini Pemuda-Pemudi Harus benahi kembali sejarah Papua Barat secara detail agar bangsa papua barat muncul rasa kemandirian dan bisa lepas dari tekanan-tekanan diatas ini, dan akhirnya terjadilah revolusi Pemuda. Tekanan-tekanan bukan itu saja tetapi, tekanan dari Peraturan daerah itu sendiri juga ada, dan tidak hitung dengan peraturan Pusat (Jakarta) yang bersifat peraturan menyiksa Daerah itu. Pemuda Papua jangan harap peraturan penyiksaan itu menyelamatkan jiwa raga anda, tetapi peraturan penyiksaan adalah membunuhan yang terluar biasa terhadap Bangsa Papua Barat kedepan.

Apa yang Harus Pemuda –pemudi Papua Lakukan untuk Menatap Masa Depan yang Lebih Cerah, Demi Negeri Ini ? 

       Pemuda-pemudi Papua Barat harus meningkatkan kualitasnya, untuk budaya manusia mulai dari kemampuan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan yang terpenting jiwa kemandirian pemuda dalam rangka mengisi merubah penjajahan ini sebagai harapan bagi bangsa Papua Barat dan menjadi lebih baik, karena kita tahu bahwa masa depan bangsa ini tergantung ditangan Pemuda, bukan siapa-siapa? bagaimana pemuda yang ada ini. Lakukanlah suatu hal bentuk pemuda sebagai ujung tombak dari bangsa malanesia (Papua). Pemuda-pemudi kau harap sebagai agen-agen perubah bagi Bangsa Papua Barat, pemuda kau harap sebagai agen-agen pemberi ased bagi Bangsa Papua Barat kedepan. Jika adanya agen-agen perubah pasti Papua jadi harum mewangi hadir di tengah-tengah Bangsa Papua Barat.

Dimana Letak Perbedaan Pemuda Papua Zaman Terdahulu Dengan Pemuda Saat Ini?


       Kita tidak bisa kemudian memberikan batas secara jelas. Sangat berbeda antara pemuda dahulu dengan pemuda sekarang, karena memang berbeda setting kehidupan terdahulu dengan setting pemuda masa sekarang. Kalau pemuda–pemuda terdahulu dalam kodisi dimana bangsa papua Barat termasuk pemuda yang tertindas waktu itu, maka semangatnya adalah membebaskan diri dari penjajahan, baik itu penjajahan Hindia Belanda maupun dari Indonesia. 
      Jika kita mengukur semangat juang anak-anak muda Papua Barat terdahulu dengan pemuda Papua Barat sekarang nampak kelihatan bahwa pemuda–pemuda Papua terdahulu semangat juang untuk membangun jauh lebih tinggi dibanding pemuda Papua masa sekarang ini. Bukan berarti kita katakan bahwa pemuda-Pemudi Papua Barat sekarang tidak mempunyai semangat juang, karena memang kondisinya berbeda. 
      Tantangan pemuda masa sekarang berbeda dalam era globalisasi ini, tantangan ke depan anak pemuda Papua Barat semakin besar, berbeda ketika era dahulu sebelum ada teknologi komunikasi, kalau kemampuan anak muda masa yang lalu mengakses informasi dari luar begitu rendah, sementara pemuda masa sekarang untuk mengakses informasi dari luar, mengakses kehidupan dari luar bisa begitu cepat. Maka kemudian berbeda pula apa yang dilakukan atau terjadi antara pemuda masa dulu dengan pemuda masa sekarang. Pemuda papua harus mengumpulkan data-data sejarah yang lebih banyak demi terwujutnya dan terciptanya sejarah Papua seutuhnya.

Sejak kapan perubahan pemuda-pemudi itu terjadi ?


      Kita tidak bisa menetapkan garis pembatas saja. Hanya jelasnya, sejak kemudian anak muda Papua ini secara bebas bisa mengakses budaya-budaya yang datangnya dari luar maka sejak itulah kemudian terjadi perubahan pada pemuda Papua kita dalam kehidupan, karena pengaruh dari pada lingkungannya yang melengkapi kehidupan pemuda papua itu sendiri. Tetapi yang jelas setelah anak muda papua begitu cepat mengakses informasi-informasi global, maka disitulah terjadi perubahan. Tetapi disini mengajak anak muda Papua/Pemuda-pemudi papua sangat harap dari sekarang untuk merangcang strategi yang bersifat Gerakan Revolusi Pemuda Papua, agar tidak terjadi dan bawa masuk Budaya Luar yang tidak menjamin bagi bangsa papua barat ini.
     Pemuda Papua Batrat diharap mengambil dan mencari langkah-langkah untuk melakukan ling-ling perjuangan. Ling-ling jangan mencari di lingkungan papua barat saja melainkan keluarlah menatap dunia luar, sebab jika buak Pemuda-pemudi Papua Barat sekarang siapa lagi yang diharapkan oleh Tanah Papua?. Ling-ling perjuangan Papua Barat adalah Gerakan Revolusi Pemuda Papua dan ling-ling Papua Barat adalah Suatu solusi utama dan terbaik dari Bangsa Papua Barat itu sendiri.

Nilai Apa Saja Yang Terkandung Dalam Diri, Pemuda Papua?

       Pemuda Papua Barat itu sebagai sosok manusia yang memiliki potensi tinggi dalam Idealismenya. Sesuai dengan idealisme perkembangan dan kejiwaan anak muda Papua Barat. Kita Pemuda  memiliki sebuah idealisme yang merupakan modal dasar sebenarnya untuk mengembangkan potensi yang besar di dalam meraih sebuah impian semangat juang, dan semangat usaha yang dimiliki oleh pemuda-pemudi kita /anak muda Papua. 
     Usaha tersebut harus dikembangkan melalui proses pendidikan, proses pelatihan, dan proses pembinaan. Inilah nilai pokok yang dimiliki oleh anak muda/ pemuda Papua barat, agar tujuannya adalah mempersiapkan generasi berikut, dan juga menciptakan SDM Papua yang memadai.
       Disamping secara fisik anak muda Papua ternilai masih kuat, berbeda dengan orang yang sudah tua. Jadi secara fisik mereka memiliki potensi yang besar. Sehingga ada semangat-semangat yang bisa dikembangkan dan kemudian bisa mambangun bangsa Papua ke depan untuk lebih maju. Bangsa Papua Barat adalah Bangsa yang memiliki idealisme yang tinggi, bukanlah bagsa Papua Barat itu seperti Bangsa biadab Indonesia, tahunya makan daging manusia.

Rasa Nasionalisme pemuda Papua terhadap Negara Papua Bata ? 


      Tinggal bagaimana kacamata melihatnya, kalau kita senantiasa bersikap positif. Bangsa Papua Barat adalah telah terbentuk Negara dari sisi fisik secara jelas-jelas. Dan pembahasan Anak muda papua saat ini masih meliliki Nasionalisme yang tinggi walaupun dengan cara yang bermacam-macam. Ada sekelompok anak muda yang karena cintanya terhadap tanah Hitam Papua ini, sehingga mereka sangat keras melakukan kontrol sosial. 
     Akan tetapi kontrol sosial yang dilakukan oleh anak muda papua semata-mata untuk menyelamatkan Negara Nan Bangsa Papua Barat. jadi, saya melihatnya dari situasi, ada juaga anak muda papua yang memiliki kecintaan terhadap tanah air Papua dengan terus menjaga rasa kebersaman sebagai bangsa dan Negara Papua Bara. Ada Anak muda/Pemuda Bangsa Papua Barat yang tertembak mati karena, dengan cintanya terhadap Negara Papua Barat. Ada  anak muda papua yang disiksa karena dicintahinya Bangsa dan Negara Papua Barat. 
      Disini saya mengagkat Negara Papua Barat dengan alasan Saya melihat dari sisi fisik Saya, memang jelas bahwa, saya mempunyai Negara dan saya memiliki sebuah Negara. Jangan kita dilihat berbagai sudut pandang. Anak Muda Papua memang Kau jangan ragu-ragu menyebut saya juga memiliki sebuah Negara. Lihatlah sisi fisik anda Sebagai Anak bangsa dan Negara Papua Barat.

Apakah Pemuda Papua Barat Bisa Menjadi Seorang Pemimpin Sebuah Bangsa, Sementara Mereka Belum Cukup Umur Untik Memimpin Bangsa?


       Pernyataan Ini tergantung kapasitas yang dimiliki oleh anak muda sebagai Pemuda Papua Barat, sepanjang anak muda Papua itu telah memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, saya fikir itu bagus, karena anak muda/Pemuda Papua disamping memiliki berbagai potensi untuk meningkatkan kapasitas berfikir, dan menatap pada Negerinya, dan anak muda itu biasanya progresif, suka invasi, maka kemudian kehidupan negara ke depan akan semakin ada pencerahan. Ada pembaharuan yang dilakukan oleh pemuda papua tersebut. Tetapi persoalannya kemudian, secara emosional banyak anak muda ini yang belum mapan. Karena masa muda, itu emisinya adalah masa–masa stabil cepat. Masa ini Pemuda harus pahami untuk menjalani tantangan yang masuk dari luar terhadap bangsa Papua Barat.
     Labilitas emosional ketika kita harus menjadi seorang pemimpin dengan emosional yang masih labil, maka tingkat kondisi pemecahan masalah yang akan menjadi publik, ketika anak muda harus memecahkan sebuah masalah disitu akan ada publik. Karena ini, maka anak–anak muda Papua yang memimpikan menjadi seorang pemimpin maka harus secepatnya melakukan suatu upaya-upaya menstabilkan emosinya. Kecerdasan emosi itu menjadi penting bagi seorang pemimpin, karena pemimpin berhubungan dengan memecahkan masalah yang membutuhkan suatu kestabilan emosional. Pemuda papua barat tahu disini dimaksud adalah pemimpin sebuah gerakan Revoludi sangat mendukung dan sangat baik masa-masa ini .

 

Makna 1 Desember 1961, Bagi Rakyat Papua

Posted by Admin: | Selasa, 24 November 2015 | Posted in , ,


Rentetan perjuangan dengan gelimang pengorbanan sudah dan terus akan dilakukan oleh rakyat Papua Barat demi mencapai cita-cita pembebasan nasional Papua Barat dari cengkraman penjajah kolonial Indonesia dan kepentingan negara-negara dunia pertama. 1 Desember 1961, merupakan salah satu tonggak awal keinginan rakyat Papua Barat membebaskan diri dari penjajah. Pada momentum politis ini telah melahirkan "Manifesto Politik Papua Barat" menjadi landasan perjuangan pembebasan Papua Barat secara politik. 
Awal perjuangan rakyat Papua Barat melawan penjajah, tak hanya karena 1 Desember 1961 tetapi jauh sebelum itu telah dimulai dengan perlawanan rakyat dengan gerilya hingga perjuangan politik yang diplomatis. Pada masa pendudukan Belanda, akhir 1940 bermunculan beberapa partai politik Papua Barat yang turut membangun kesadaran akan nasionalisme Papua Barat. Partai politik di Papua Barat saat itu yang tak ada hubungannya sama sekali dengan partai-partai yang ada di Belanda maupun Indonesia. Partai lokal lahir sesuai dengan kebutuhan dan kemauan politik rakyat di Tanah Papua Barat.
Kesadaran melawan penjajah secara politik juga turut melahirkan perlawanan bersenjata dengan bergerilya. Tonggak awal pencetusan berdirinya perjuangan bersenjata di Manokwari, Juli 1965 oleh para eks-pasukan Batalyon Papua (PVK = Papoea Vrijwilligers Korps). Tokoh pemimpin kharismatis gerakan ini adalah Johan Ariks, yang waktu itu sudah berumur 75 tahun. Johan Ariks juga sebelumnya terlibat dalam pendirian beberapa partai politik diantaranya; Gerakan Persatuan Nieuw Guinea dan Partai Demokraticshe Volkspartij (DVP).
Pada periode 1961 - 1970, selain dari pendirian partai Politik tidak hanya sebatas membangun kesadaran, tetapi juga untuk melawan militerisme Indonesia. Pada dekade ini terdapat 7 (tujuh) kali Operasi Militer yang digencarkan Indonesia untuk membasmi perlawanan dan kesadaran rakyat Papua Barat. Awal invasi militer Indonesia, ditandai dengan terbitnya Hukum Perang (Dektrit) Trikora pada akhir tahun 1961. Operasi Militer pertama kali dipimpin lansung oleh Mayor Ali Murtopo dan Benny Moerdani. Setelah tahun-tahun awal pada dekade ini, berikutnya muncul juga beberapa nama militer Indonesia yang memimpin dalam pembantaian rakyat Papua Barat, diantaranya A.Yani (Operasi Wisnumuri, 1963 -1965), R.Kartidjo (Operasi Sadar, 1965), R.Bintoro (Operasi Bharatyudha, 1966 - 1967) dan Sarwo Edi (Operasi Tumpas, 1967 - Operasi Wibawa 1967 - 1970). 
Pelaksaaan Operasi Militer pada dekade 1961 - 1970 adalah ilegal menurut hukum Indonesia, karena pada saat itu Papua Barat belum resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dapat diartikan sebagai penjajahan. Belakangan diketahui bahwa nafsu pendudukan militer Indonesia ini diboncengi dengan kepentingan imperialis, yaitu dilaksanakannya Kontrak Karya Freeport pada tahun 1967 sebelum pelaksaan referendum yang oleh Indonesia diubah menjadi Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969. Sebab akibat dari niat yang busuk Indonesia dan kroninya juga sangat mempengaruhi proses PEPERA, yaitu adanya pengubahan dari yang seharusnya, salah satu diantanya "Satu Orang, Satu Suara" menjadi "Dewan Musyawarah". Akhirnya pelaksaan PEPERA pun tidak sesuai dengan kebiasaan hukum internasional dan melanggar Perjanjian New York tahun 1962. Sepihak oleh Indonesia rakyat Papua Barat dipilih dan ditentukan untuk memilih dalam PEPERA hanya 1025 Orang, dari kurang lebih 800.000 jiwa saat itu.
Pengalaman traumatik akan kekejaman militerisme Indonesia, tak menghentikan perlawanan rakyat Papua Barat untuk pembebasan nasional. Pada tanggal 1 Juli 1971, Seth Jafet Rumkorem bersama Jakob Prai, Jarisetou Jufuway dan Louis Wajoi mencetuskan "Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat ", di Desa Waris (Marvic). Keinginan akan mendirikan negara sendiri pun terus bergema di pelosok bumi Papua Barat, sesudah tiga tahun Proklamasi di Marvic. Pada tanggal 3 Desember 1974, di Serui lahirlah deklarasi Negara Melanesia Barat yang meliputi Sorong - Samarai. 
Salah satu peristiwa yang hingga kini masih terus dikenang rakyat Papua Barat adalah pembunuhan tokoh budayawan Papua, Arnold Clemens Ap, 26 April 1984. Arnold dibunuh karena ketakutan Militer Indonesia terhadap perannya yang turut membangun kesadaran akan nasionalisme Papua melalui gerakan musik-budaya "Mambesak". Adapun keinginan rakyat Papua Barat untuk bebas dari cengkraman penjajah juga sudah dan akan terus melahirkan momentum politis, salah satu diantaranya deklarasi Negara Melanesia Barat pada tanggal 14 Desember 1988 oleh Dr. Thomas Wapai Wanggai. 
Selain pertistiwa bersejarah, perlawanan rakyat Papua Barat terus dilakukan dengan aksi-aksi demontrasi, diplomasi, gerilya hingga pendirian kantor-kantor perwakilan perlawanan rakyat Papua Barat dibeberapa negara, untuk menggalang solidaritas masyarakat internasional dan mengkampanyekan kekejaman militer Indonesia. 
1 Desember 1961, merupakan tonggak kesadaran nasionalisme Papua dengan melahirkan manifesto politik Papua secara terbuka. Dengan menetukan nama negara : Papua Barat, lagu kebangsaan : “Hai, Tanahku Papua” serta “Bintang Kejora” sebagai bendera nasional dan lambang Burung Mambruk dengan semboyan “One People One Soul”. Maka rakyat Papua sudah dan akan selalu memperingati setiap 1 Desember sebagai kemerdekaan yang terjajah.
Hingga pada tahun 2015 ini, ratusan ribu rakyat Papua telah terbunuh dalam melawan dan karena kekejaman militer Indonesia, yang juga terus menyokong kepentingan negara dunia pertama. Hormat dan jabat erat untuk rakyat yang terus berlawan!! Hidup Rakyat!! Hidup Rakyat Papua!! 
Selamat menyongsong 1 Desember 2015!!

Kep. Salomon Desak Prancis Didesak Patuhi Proses Dekolonisasi PBB

Posted by Admin: | Minggu, 04 Oktober 2015 | Posted in ,

Perdana Menteri Kepulauan Salomon, Manasye Sogavare, berbicara di PBB - PBB

Jayapura, Jubi – Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasye Sogavare, meminta Prancis melaksanakan proses dekolonisasi bagi Polinesia Prancis yang telah disetujui oleh PBB dua tahun lalu.
Pada tahun 2013, Majelis Umum telah memutuskan sebuah resolusi yang disponsori oleh Kepulauan Solomon telah mendaftarkan wilayah teritorinya pada daftar dekolonisasi PBB, namun, Paris mengabaikan keputusan tersebut.
Laporan Radio New Zealand akhir pekana lalu mengatakan, Perancis menyatakan tidak akan mengambil proses dekolonisasi PBB dan juga mengesampingkan penyelenggaraan referendum kemerdekaan langsung seperti yang diminta oleh majelis teritorial.
Berbicara di PBB di New York pada pekan lalu, Perdana Menteri Sogavare mendesak Prancis untuk mengubah sikapnya dan mentaati keputusan PBB.
“Kepulauan Solomon desak kekuatan administrasi untuk sepenuhnya bekerja sama dengan komite khusus (pansus). Kami mencatat, 30 tahun uji coba nuklir oleh kekuatan administrasi telah menyebabkan radiasi atom yang berdampak pada kesehatan yang meluas serta pada lingkungan,” kata PM Sogavare, seperti dilaporkan Radio New Zealand, Sabtu (3/10/2015).
Selain itu, dalam pidatonya, Sogavare juga mendesak PBB agar segera mengambil tindakan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah Papua, Indonesia.
Sogavare mengatakan Kepulauan Solomon dan negara-negara Pasifik lainnya sedang mencari waktu melakukan dialog yang baik dan kerjasama dengan Indonesia terkait situasi pelanggaran HAM tersebut. Namun, ia mengatakan ada desakan dimana harus ada tindakan sendiri yang dilakukan Dewan Hak Asasi Manusia PBB agar berbuat lebih banyak untuk menyelidiki pelanggaran HAM di Papua.
“Kami menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk memungkinkan akses bebas dan tidak terbatas terhadap misi ini (pencari fakta ) dalam semangat sejati atas kerjasama regional. Dalam jangka panjang namun PBB tidak dapat menghindar dari akar penyebab pelanggaran ini,” ucapnya. (Yuliana Lantipo)


Sumber :http://tabloidjubi.com/2015/10/04/kep-salomon-desak-prancis-didesak-patuhi-proses-dekolonisasi-pbb/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

Pidato & Pernyataan PM Kepulauan Salomon Sesi Untuk Papua Barat di Sidang Majelis Umum PBB Ke-70

Posted by Admin: | Kamis, 01 Oktober 2015 | Posted in , ,

 


New York (02/10/15), PM Kepulauan Solomon, Tuan H. Manasye Sogavare, telah meminta Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berpusat di Jenewa untuk melakukan lebih dalam menyelidiki dan memantau dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan di daerah Papua dan Papua Barat dari Indonesia.

Perdana Menteri Hon Manasye Sogavare membuat panggilan di New York hari ini di alamat di Sesi ke-70 Majelis Umum PBB.

Dia mengatakan, “Semua negara memiliki kewajiban hukum dan tanggung jawab moral untuk menegakkan, menghormati dan memajukan hak asasi manusia dan bila perlu mengambil langkah-langkah pencegahan, perlindungan dan hukuman terhadap pelanggaran hak asasi manusia atau pelanggaran sesuai dengan Piagam PBB dan hukum internasional yang berlaku.

Dengan latar belakang tersebut di atas, Perdana Menteri mengatakan Majelis Umum sangat menyadari kekhawatiran terus pelanggaran hak asasi manusia di daerah Papua dan Papua Barat dari panggilan selanjutnya Indonesia dan Solomon Islands di Dewan Hak Asasi Manusia berdasarkan Jenewa untuk melakukan lebih dalam menyelidiki dan pemantauan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan pada etnis Melanesia di Papua.

“Kami (Kepulauan Solomon) ingin masalah ini dihadiri secara tepat waktu,” tambahnya.

Perdana Menteri Sogavare kata Kepulauan Solomon bersama-sama dengan Forum Kepulauan Pasifik mencari dialog yang tulus dan kerjasama dengan Indonesia untuk mengatasi dan membubarkan tuduhan melaporkan pelanggaran hak asasi manusia.

Dia mengatakan Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik baru-baru ini, mereka ‘Pemimpin Summit’ di Port Moresby menyetujui Misi pencari fakta pelanggaran HAM ke Papua Barat untuk membangun dugaan penyalahgunaan hak asasi manusia di sana.

Dia mengatakan KTT memutuskan untuk mengajukan banding kepada Pemerintah Indonesia untuk memungkinkan akses gratis dan tak terbatas untuk misi ini dalam semangat sejati kerjasama regional. ‘

Perdana Menteri Sogavare menambahkan bahwa, “Dalam jangka panjang Namun, PBB tidak bisa menghindar dari akar penyebab pelanggaran ini.” sumber : webtv.un.org



Wamenlu Amerika Serikat. : Kita Harus Menghormati Terhadap Hak Asasi Manusia Di Papua Barat

Posted by Admin: | Minggu, 27 September 2015 | Posted in , ,


Heather Higginbottom (Wamenlu A.S)
Heather Higginbottom (Wamenlu A.S)
#PapuaItuKitaMelanesia#, Port Moresby (14/09/15). Sebelum dilaksanakan KTT PIF Ke-46, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pernah menyatakan, dalam forum kepulauan pasifik, selain membahasa masalah iklim dan ketata pemerintahan kawasan Pasifik, kita juga, “Harus Menghargai Berbagai persoalan pelanggaran HAM di Papua Barat” dan hal itu perlu dibicarakan dalam forum nanti.
Janjinya lagi bahwa, Amerika Serikat menyerukan pembebasan tahanan politik dan menghormati hak asasi manusia di provinsi Papua dan Papua Barat di Indonesia.
Saat itu, Komentar ini datang dari Wakil Menteri Luar Negeri Heather Higginbottom yang telah di Port Moresby untuk melakukan pembicaraan di sela-sela di Forum Kepulauan Pasifik.
Ms Higginbottom juga telah mengumumkan tambahan 2,5 juta dolar AS untuk adaptasi perubahan iklim di Pasifik dan dia mengatakan AS akan mendorong untuk “ambisius” kesepakatan tentang perubahan iklim pada KTT PBB di Paris pada bulan Desember tahun 2015. 

Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua

Posted by Admin: | Kamis, 24 September 2015 | Posted in ,



rasis
PADA tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat Perang Dunia I (PD I) berlangsung, pemerintah Turki secara sistematis membantai populasi Armenia yang ada di negara itu. Orang Armenia menjadi korban deportasi, pengusiran, penyiksaan, pembantaian dan kelaparan. Sejumlah besar populasi Armenia ini diusir ke Syria dan padang pasir, sehingga mereka mati akibat kelaparan dan kehausan.
Pembantaian terhadap ras Armenia kembali terjadi tahun 1920 sampai dengan 1923. Kali ini dilakukan oleh oposisi Pemuda Turki yang memiliki pandangan kemurnian ras yang sama. Total diperkirakan satu setengah juta orang Armenia terbunuh selama periode 1915- 1923 tersebut.
Dua pembantaian ras Armenia di Turki ini, tak bisa dilepaskan dari peran media di Turki sejak tahun 1915. Media Turki, selama periode PD I, telah membangun propaganda ideologis tentang pembentukan kekaisaran Turki baru yang disebut Pan-Turanism, yang terbentang dari Anatolia hingga Asia Tengah. Ide Pan-Turanism rencananya hanya menjadi milik orang Turki asli saja. Propaganda inilah yang menjadi pembenaran atas pembunuhan besar-besaran dalam dua periode waktu tersebut.
Turki dan periode kekelamannya hanyalah salah satu dari contoh bagaimana media terlibat dalam propaganda yang secara sadar meletakkan satu komunitas berada di bawah komunitas lainnya. Praktik rasisme secara struktural ini, pernah terjadi juga pada zaman Yunani dan Romawi kuno. Juga terjadi pada zaman perbudakan ras Afrika abad XVI. Setelah kesombongan Turki, Nazi kembali mempraktikkan rasisme struktural ini terhadap bangsa Yahudi. Paska Perang Dunia II, rasisme struktural ini terjadi lagi secara masif di Afrika Selatan, bangsa Indian di benua Amerika dan bangsa Aborigin di Australia. Dua yang terakhir, masih terjadi hingga saat ini. Pada semua praktik rasisme struktural ini, peran media massa sangat signifikan dalam membangun opini publik yang memungkinkan hal itu terjadi.
Media massa ibarat pedang bermata-dua. Pada satu sisi ia bisa memainkan peran untuk mendorong terwujudnya kondisi sosial yang egaliter dan harmonis di antara beragam perbedaan sosial dan politik. Pada sisi lainnya, media massa adalah alat propaganda yang ampuh untuk memelihara rasisme struktural yang pada akhirnya membenarkan tindakan kekerasan secara berkelanjutan oleh Negara yang dikuasai oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Di sini kelompok minoritas ditempatkan pada posisi yang paling rendah dalam kebudayaan dan akal budinya.

Pelanggaran Etika, Mempertahankan Rasisme Stuktural
Rasisme struktural yang dipompa oleh media massa juga berlangsung di Papua. Pada Rabu 27 Mei 2015, misalnya, Kantor Berita Antara menyiarkan berita berjudul “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera” yang ditulis oleh Evarukdijati. Pemberitaan ini kemudian dikutip oleh berbagai media online, salah satunya adalahmerdeka.com dengan judul berita yang sangat tidak etis, “Kelompok bersenjata sebut 2 TNI yang ditangkap sudah dimasak”.
Berita tersebut, sangat menyesatkan dan menyebarkan opini rasis terhadap orang asli Papua. Berita ini telah menggiring opini publik pada praktek kanibalisme yang menempatkan Orang Asli Papua sebagai komunitas yang sangat rendah kebudayaan dan akal budinya, seperti ditunjukkan oleh beberapa laman situs online, antara lainbersamadakwah.com, beritacenter.com, jakartagreater.com, wartapriangan.com, dan pojoksatu.id.
Pemberitaan selanjutnya yang disiarkan oleh Kantor Berita Antara pada tanggal 28 Mei 2015 yang berjudul“Panglima TNI bantah dua prajurit disandera”, semestinya secara otomatis mengonfirmasi bahwa berita pertama yang ditayangkan sebagai berita yang tidak valid dan tidak akurat.
Pasal 6 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers, Huruf C menegaskan Pers nasional melaksanakan peranannya mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar;
Berita berjudul “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera” telah gagal memenuhi unsur informasi yang tepat, akurat dan benar sehingga merugikan Orang Asli Papua. Berita tersebut justru telah mengembangkan pendapat umum namun tidak didasarkan oleh informasi yang tepat, akurat dan benar. Bantahan Panglima TNI dalam berita berjudul “Panglima TNI bantah dua prajurit disandera” mengkonfirmasi bahwa penyanderaan yang diberitakan tersebut TIDAK PERNAH TERJADI. Sehingga patut dipertanyakan ketepatan, keakuratan dan kebenaran informasi dalam berita tersebut.
Pemberitaan tersebut telah melanggar beberapa pasal dalam Kode Etik Jurnalistik yang diterbitkan oleh Dewan Pers sbb :
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga praduga tak bersalah.
Berita berjudul “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera” jelas  tidak berimbang karena hanya berdasarkan informasi dari Panglima Kodam Cenderawasih yang didapatkan dari Danramil Komepa serta mencampurkan fakta dan opini yang menyesatkan melalui kalimat “Kedua anggota TNI sudah dimasak”. Patut diragukan jika wartawan yang menulis berita tersebut telah melakukan uji informasi.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Berita berjudul “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera” adalah berita bohong dan fitnah karena telah dibantah oleh Panglima TNI melalui berita “Panglima TNI bantah dua prajurit disandera”. Selain itu, berita ini layak disebut berita yang sadis karena memuat kalimat  “Kedua anggota TNI sudah dimasak” yang menggiring opini publik pada praktek kanibalisme.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Berita berjudul “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera” adalah berita yang disiarkan berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap Orang Asli Papua dan merendahkan martabat Orang Asli Papua melalui kalimat “Kedua anggota TNI sudah dimasak” yang dikutip oleh berbagai media lainnya. Kalimat ini telah menggiring opini publik, seakan praktek kanibalisme masih dilakukan oleh Orang Asli Papua.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Meskipun Panglima TNI telah membantah adanya penyanderaan atas dua anggota TNI seperti yang diberitakan dalam berita “Pangdam berupaya bebaskan anggota TNI yang disandera”, namun Kantor Berita Antara tidak dengan segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Mencari Legitimasi atas Kekerasan di Papua
Awal tahun 2000, Noam Chomsky, Profesor di Massachusetts Institute of Technology muncul dengan pendapatnya tentang ‘kontrol opini publik’. Ia mengatakan ada dua model demokrasi dalam sejarah, yakni demokrasi dimana masyarakat secara aktif berpartisipasi dan satunya lagi di mana masyarakat dimanipulasi dan dikendalikan kesadarannya. Menurut Chomsky, yang juga dikenal sebagai father of modern linguistics, propaganda dalam demokrasi digunakan sebagai gada oleh negara totaliter, dan media massa adalah kendaraan utama untuk menyampaikan propaganda di Amerika Serikat. Analisanya terhadap Komisi Creel (sebenarnya bernama Komite Informasi Publik), bentukan presiden Woodrow Wilson. Dalam masa PD I itu, Wilson menempatkan temannya George Creel, seorang jurnalis dan editor pada surat kabar Rocky Mountain News untuk mengubah sikap populasi Amerika Serikat yang pasif menjadi histeris agar Amerika Serikat mendapatkan legitimasi publik untuk terlibat dalam PD I.
Praktek yang sama dilakukan dalam masa pemerintahan George Bush untuk melegitimasi keterlibatan Amerika Serikat dalam perang di Irak. Chomsky menemukan bahwa media massa dan Industri Kehumasan telah digunakan sebagai propaganda untuk menghasilkan dukungan publik agar Amerika Serikat terlibat dalam perang di Irak. Profesor ini pada akhirnya berkesimpulan, industri Kehumasan di abad XX telah sangat dipengaruhi oleh teori Walter Lippmann ‘Penonton Demokrasi’, yang memandang masyarakat sebagai ‘kelompok yang bingung’ sehingga perlu diarahkan, bukan diberdayakan. Industri Kehumasan di Amerika Serikat dan banyak negara berkembang ternyata menempatkan fokus mereka pada ‘mengendalikan pikiran publik,’ dan bukan pada menginformasikan sesuatu yang menjadi hak publik atas informasi.
Di Papua, kontrol terhadap media dan kontrol terhadap opini publik menjadi sangat berharga bagi negara. Sangat berharganya hingga kalimat “Kedua anggota TNI sudah dimasak” yang pasti hanyalah sebuah kode dalam institusi TNI – Kode yang semestinya tak perlu disampaikan kepada publik-  harus disampaikan kepada publik melalui media massa.  Terbukti, kalimat ini ditafsirkan secara berbeda oleh publik dan Kepolisian Daerah Papua kemudian mengirimkan satu peleton anggota Brigade Mobil ke Enarotali. Sadar atau tidak sadar, media dan Industri Kehumasan telah terlibat dalam melegitimasi praktek kekerasan berkelanjutan di Papua dan melegitimasi kehendak negara untuk melibatkan sebanyak mungkin aparat keamanan di Papua melalui Rasisme Struktural.
Jurnalisme terlalu berharga untuk dikendalikan oleh sebuah institusi dan merendahkan satu komunitas.***
  
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Tabloid Jubi, di Papua

Memandang Pembebasan Papua

Posted by Admin: | | Posted in



papua
Pranata Kolonialisme di Papua
UNTUK berbagai ragam masalah di tanah Papua, kita mau tidak mau mesti berangkat dari pengertian bahwa bangsa Papua sedang dijajah. Peliknya persoalan dan jenis kesengsaraan yang menimpa orang Papua, merupakan bentuk dari kolonialisme modern yang kemudian dapat dibahasakan sebagai imperialisme. Dengan begitu, perspektif cara pandang kita menjadi jelas bahwa semua ketimpangan ekonomi, sosial dan politik di West Papua merupakan anak kandung kaum imperialis yang bernama, Indonesia.
Dalam prakteknya, penjajahan di teritori West Papua, Indonesia menggunakan metode yang kurang lebih serupa dengan pengalaman yang dialaminya selama menjadi korban penjajahan. Selama hampir dua ratus tahun, daerah-daerah di Indonesia mengalami periode kekerasan dari praktek kolonialisme Belanda. Praktek kekerasan dalam mengendalikan tanah jajahan ini disebut sebagai repressive colonialism. Selain Belanda, bentuk penjajahan seperti ini antara lain diterapkan oleh beberapa negara Eropa seperti Spanyol dan Prancis. Tipe kolonialisme yang represif ini mensyaratkan penutupan ruang-ruang kebebasan bereskpresi dan penghancuran yang simultan serta kontinyu terdapat upaya-upaya kemerdekaan yang muncul sebagai aspirasi sosial politik rakyat jajahan.
Bentuk tersebut agak berbeda dengan jenis kolonialisme yang diterapkan Amerika Serikat dan Inggris yang disebutliberal colonialism. Bentuk kolonialisme macam inu, bergulir dengan cara menjadikan daerah-daerah jajahan menjadi satelit yang terikat dengan kebebasan yang terbatas. Daerah-daerah koloni dikontrol sedemikian rupa dengan pendekatan hegemonik sehingga menjadikan mereka yang terjajah merasa tidak membutuhkan kemerdekaan. Bekerja melalui perangkat-perangkat ideologis sehingga aspirasi sosial politik masyarakat terjajah adalah ketergantungan yang bersifat adiktif terhadap penjajahnya.
Ekspansi kekuasan Indonesia yang dilakukan Soekarno melalui Trikora (Tri Komando Rakyat) terhadap wilayah kedaulatan West Papua, yang dimulai pada 1 Mei 1961 (atau 19 hari setelah deklarasi Manifesto Kemerdekaan West Papua) menjadi awal dari penjajahan tersebut. Aksi ekspansif Indonesia ke tanah Papua, dengan berbagai alasan pembenarannya justru menjadi pembuktiaan mental militerisme dan hasrat kolonialisme penguasa Indonesia saat itu yang akhirnya terus berlangsung hingga sekarang. Praktis, hal tersebut menjadikan West Papua sebaga wilayah protektorat dari kolonial Indonesia. Tindakan Indonesia yang menganesksasi Papua sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kelakuan Perancis di daerah-daerah Indocina tahun 1889, atau tidak jauh berbeda dengan tindakan kolonial Belanda terhadap Indonesia di masa lalu. Warisan sifat-sifat kolonialis Eropa di Indonesia misalnya tampak jelas dalam praktek pecah belah (devide et impera) dan mengutamakan pendekatan yang berkarakter militeristik. Orang-orang Papua kemudian saling diadu dan dipecah belah. Sekolah-sekolah Indonesia di Papua kemudian mengajarkan bahwa menuntut kemerdekaan adalah sesuatu yang illegal dan Indonesia bukanlah penjajah. Jika ada kelompok yang telah mencapai kesadaran politik dalam dirinya untuk menuntut hak sebagai manusia merdeka, mara mereka akan berhadapan dengan senjata. Penyiksaan, penangkapan semena-mena, hingga eksekusi politik kemudian dianggap lumrah. Menebar teror ke tengah bangsa Papua agar mereka menutup mulut dan tidak bicara soal kemerdekaan.
Selain dua strategi di atas, Indonesia juga menjalankan praktik penjajahan lain melalui politik asimilisasi (Indonesianisasi). Praktek ini dijalankan dengan pendapat bahwa orang Papua masih terbelakang dan tuntutan kemerdekaan yang muncul semata-mata karena ketidakpahaman mengenai ke-Indonesia-an itu sendiri. Praktek Indonesianisasi ini, misalkan, dijalankan melalui pendidikan sosial budaya baik melalui sekolah maupun institusi terkait lain. Orang Papua sebagai ras Melanesia diajarkan bahwa mereka adalah Indonesia itu sendiri walau sebenarnya West Papua tidak berbagi kesamaan sejarah dan budaya seperti Melayu Indonesia. Pendekatan macam ini digunakan sebagai bagian dari trik untuk menjadikan bangsa Papua sebagai bangsa terjajah kemudian memiliki ketergantungan kepada penjajah Indonesia dan akhirnya takut untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Alasan lain penggunaan taktik asimilasi ini adalah menguatnya tekanan internasional atas rangkaian praktek kekerasan oleh Indonesia terhadap aktifis kemerdekaan Papua dan juga pembatasan kebebasan hak-hak politik warga sipil. Sejauh ini semua taktik Indonesia untuk menundukkan Papua dan hasrat kemerdekaannya masih belum berhasil. Dalam beberapa kasus, justru dukungan terhadap Papua semakin meluas setelah masyarakat internasional menyaksikan bagaimana orang Papua ditindas di tanahnya sendiri.
Selain itu, rakyat West Papua mulai memahami sejarah dirinya sebagai bangsa dan bagaimana kemudian pola kolonialisme yang dilakukan Indonesia secara menyeluruh di tanah Papua. Pendidikan sejarah dan budaya orang Papua kemudian secara perlahan menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran dalam menuntut kemerdekaan sebagai bangsa yang bermartabat. Orang-orang Papua (khususnya generasi muda) kemudian dapat memahami bahwa berbagai konflik di tanah Papua sebenarnya dilahirkan oleh kontradiksi alamiah antara dua kekuatan yang bertentangan. Di satu sisi ada semangat kolonialisme Indonesia, sementara di sini yang berseberangan ada hasrat mulia anak-anak Papua untuk memerdekakan diri dari penjajahan.. Seperti yang dikatakan Frantz Fanon bahwa, akan selalu ada kontradiksi antara kolonialisme yang semakin kokoh menanamkan kuku dan semakin tingginya spirit dekolonisasi dari bangsa yang terjajah. Kontradiksi tersebut kemudian akan meruncing kepada benturan konflik antara dua kepentingan yang berbeda ini. Sebagai seorang revolusioner Fanon menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi terus menerus tersebut adalah dengan menghapuskan penjajahan itu sendiri. Sebab, penjajahan adalah akar dari konflik-konflik tersebut.
Dalam kasus yang sedang dialami bangsa Papua, solusi yang ditawarkan Fanon belum tercapai. Hal ini disebabkan karena praktek penindasan kolonial Indonesia berupaya untuk terus mempertahankan teritori tanah Papua sebagai objek transaksi ekonomi politik Indonesia dan para pendukungnya seperti Amerika Serikat. Namun kita semua juga harus tahu dan memahami bahwa sebagai penjajah, Indonesia sendiri sebenarnya tidaklah benar-benar merdeka. Penguasa kolonial Indonesia buktinya masih juga memiliki ketergantungan dengan seperti Amerika Serikat. Dengan kata lain, Indonesia adalah penjajah yang juga masih terjajah. Dijajahnya Indonesia secara ekonomi dan politik oleh bangsa lain menjadi salah satu sebab mengapa, eskploitasi terhadap Papua berlangsung berkali lipat lebih keras. Bahwa rakyat Indonesia sendiri masih berada di bawah bayang-bayang imperialisme global yang membuat nasibnya sedikit lebih baik karena berhasil menjerumuskan rakyat West Papua ke dalam mata rantai penindasan..
Aneksasi Indonesia terhadap Papua pada 1 Mei 1961, sebenarnya jelas bertentangan dengan semangat dasar dekolonisasi dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di tahun 1955, yang mana Indonesia merupakan salah satu bangsa penggagasnya. Dalam KAA pertama itu, tercantum dengan jelas bahwa forum tersebut berupaya mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa yang sedang berada di bawah penjajahan dan saling bantu antar bangsa yang baru saja merengkuh kemerdekaannya. Namun delapan tahun kemudian, Indonesia mengkhianati semangat KAA dengan menjadikan bangsa Papua sebagai jajahannya. Walau sebenarnya Indonesia dapat mengambil pilihan lain yang lebih bermartabat, yaitu dengan ikut mendorong dekolonisasi West Papua sekaligus mengulurkan tangan dan membantu bangsa Papua membangun diri dan bangsanya. Pilihan untuk menempuh cara-cara imperialis kolonialis seperti yang dilakukan bangsa Eropa sebelumnya terhadap Indonesia, membuktikan bahwa penguasa Indonesia telah diracuni oleh pemikiran kolonialisme tersebut. Dengan begitu tentu kita semua dapat menemukan bahwa sikap Indonesia dalam KAA baru-baru ini terkait soal kemerdekaan Palestina menjadi sesuatu yang kontra produktif. Sebab ketulusan mendukung kemerdekaan sebuah bangsa tidak mungkin kita temukan dari mulut seorang penjajah. Dukungan Indonesia terhadap Palestina menjadi tidak sesuai dengan kenyataan praktek kolonisasi teritori West Papua.
Semangat nasionalisme Indonesia yang dibentuk sebagai semangat anti penjajahan, seharusnya tidak digunakan untuk membenarkan praktik penjajahan itu sendiri. Indonesia juga seharusnya berhenti melakukan tindak rekayasa sejarah dengan mengaitkan teritori West Papua sebagai wilayah kedaulatannya. Sebab sejarah sosial budaya antara West Papua dan Indonesia jelas berbeda. Indonesia dan West Papua hanya akan dapat menemukan kesamaan mereka pada soal spirit untuk mendorong kemerdekaan dari penjajahan dan cita-cita membangun bangsa masing-masing untuk menjadi lebih maju dan beradab.

Pembebasan Bangsa
Perlawanan rakyat Papua terhadap pendudukan kolonialisme Indonesia di teritori West Papua tidaklah terkurung dalam romantisme dan nasionalisme sempit. Perjuangan orang-orang West Papua untuk mencapai kemerdekaan dilandaskan sepenuhnya pada kesadaran dan gagasan yang lebih besar. Yakni kesadaran untuk bebas dari segala bentuk dan aktor yang sedang menguasai dan menjajah serta merusak bumi Papua. Selayaknya bangsa-bangsa lain di dunia, bangsa Papua juga memiliki hak azasi untuk menentukan nasibnya sendiri. Penentuan nasib sendiri adalah pintu awal untuk kembali menata peradaban bangsanya.
Penentuan nasib sendiri oleh orang Papua adalah cara untuk menyelamatkan bumi Papua dari kerusakan besar-besaran yang terus melanda. Penentuan nasib sendiri secara ekonomi dan politik adalah cara untuk menghentikan konflik bersenjata dan lingkaran kekerasan yang menjadikan anak-anak Papua sebagai korban. Penentuan nasib sendiri adalah cara untuk menyelamatkan orang Papua dari kepunahan. Penentuan nasib sendiri adalah cara agar orang Papua dapat maju dan berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Penentuan nasib sendiri adalah cara agar orang-orang Papua tidak lagi menjadi warga kelas dua di atas tanah leluhurnya. Penentuan nasib sendiri adalah cara menyelamatkan warisan kebudayaan Papua yang beragam agar tidak musnah. Penentuan nasib sendiri adalah tuntutan nurani setiap anak Papua.
Penentuan nasib sendiri termasuk di dalamnya kebebasan agar orang Papua dapat menentukan sistem ekonomi yang dapat melepaskan bangsanya dari ketergantungan mekanisme pasar global. Sistem ekonomi yang bebas dari intervensi neo-liberalisme yang merupakan wajah baru kolonialisme. Penentuan nasib sendiri adalah soal bagaimana anak-anak Papua mengambil tanggung jawab untuk menata sistem perekonomian yang sesuai dengan corak produksi rakyat Papua sendiri. Agar di kemudian mama-mama kami tidak berjualan di atas trotoar jalan, atau terkucil di bawah dominasi ekonomi kapitalis yang dilindungi penguasa kolonial Indonesia. Dengan penentuan nasib sendiri Papua dapat kembali menjadi bangsa yang bermartabat serta kembali dapat menata hidup dalam kekerabatan keluarga, marga dan suku di atas tanah Papua, sesuai dengan wilayah adat kami masing-masing. Kemerdekaan bagi orang-orang Papua berarti bahwa kami dapat mengatur sendiri kontruksi sosial budaya kami dalam tata hidup budaya Melanesia.
Kami yakin bahwa dengan kemerdekaan, kami orang Papua dapat menemukan kembali nilai dan prinsip-prinsip politik yang telah tertanam dalam kehidupan sosial-politik kami, dan mencegah bangsa kami untuk melakukan atau mendiamkan segala bentuk penindasan manusia bumi.
Itu mengapa hak untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua harus diperjuangkan untuk memutus mata rantai penindasan. Menindas orang-orang Papua sebagai jalan keluar karena penindasan yang diterima dan dialami Indonesia dari bangsa lain, tidak akan membuat bangsa Indonesia jauh lebih baik. Sebaliknya, mendukung kemerdekaan Papua akan membuat Indonesia satu langkah lebih dekat dengan kemerdekaannya dari penjajahan ekonomi dan politik bangsa lain.***
  
Penulis adalah Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

#TERPOPULER

Random Posts

#Translate

Tayangan Laman

# FIRMAN TUHAN

# FIRMAN TUHAN

# visitor

Flag Counter