Headlines

Geopolitik Pengaruhi Hasil PIF-47, PICWP Konsisten Hingga ke PBB

Posted by WEMPI W. DOO | Selasa, 13 September 2016 | Posted in , , , ,

Para pimpinan negara dalam pertemuan PIF ke 47 di Negara Federasi Mikronesia (FSM) yang berakhir, Minggu (11/9/2016) – pm.gov.pg

 Jayapura, Jubi – PIANGO memandang Australia dan Selandia Baru berperan besar secara geopolitik  hingga membuat hasil komunike Forum Kepulauan Pasifik Selatan (PIF) ke-47 tentang West Papua belum maksimal. 

Pertemuan para pimpinan PIF sejak Rabu (7/9) berakhir pada retreat Minggu (11/9/2016). Isu pelanggaran HAM Papua tetap menjadi agenda dan perhatian para pemimpin negeri Pasifik.
Namun, menurut Direktur Eksekutif Asosiasi NGO Kepulauan Pasifik (PIANGO), Emele Duituturaga, kepada Jubi Selasa (13/9/2016), hasil komunike PIF-47 kali ini belum mencerminkan desakan masyarakat sipil, khususnya terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua.

“Tampak jelas bahwa geopolitik bermain dalam isu ini. Kami menduga para pemimpin kami tidak cukup berani dan tegas di hadapan negara-negara tetangga besar seperti Australia dan Selandia Baru,” ujar Duituturaga yang menyesalkan desakan masyarakat sipil, agar PIF medorong isu penentuan nasib sendiri West Papua ke PBB, belum tercermin dalam hasil Komunike PIF-47.
Namun demikian, lanjutnya, isu pelanggaran HAM Papua, yang tidak bisa digeser dari agenda PIF, adalah capaian penting.
“Kami tahu beberapa negara anggota PIF bahkan berharap isu West Papua dihapuskan sama sekali dari agenda PIF,” kata dia sambil  memahami bahwa hasil komunike tersebut adalah pertarungan politik dan pengaruh.

Hasil komunike terkait isu West Papua di dalam poin 18 menyatakan, bahwa para pemimpin mengakui sensitivitas politik isu West Papua (Papua) dan bersepakat isu dugaan pelanggaran HAM di West Papua (Papua) harus tetap ada dalam agenda. Para pemimpin juga bersepakat pentingnya sebuah dialog terbuka dan konstruktif dengan Indonesia terkait masalah itu.
Menanggapi hasil Komunike PIF ke 47 yang belum memenuhi harapan perjuangan politik West Papua, Octovianus Mote, Sekretaris ULMWP kepada Jubi mengatakan dirinya tidak menganggap hal tersebut sebagai kekalahan.
“Kita menang dalam hal dukungan. Tahun ini hampir semua negeri mendukung Papua Barat. Tahun lalu masih sangat sedikit karena masih banyak yang belum tahu dan tidak bersuara,” ujarnya.
Dia mengaku justru lebih lebih optimis saat ini. “Saya lebih optimistik karena pemimpin kunci bersuara sama.”
PICWP Lanjutkan ke PBB
Terlepas dari hasil PIF-47 tersebut, Emele Duituturaga menegaskan bahwa PICWP, yang terdiri dari Kepulauan Solomon, Vanuatu, Republik Kepulauan Marshall, Nauru, Tuvalu dan PIANGO, adalah platform yang semakin bisa diandalkan untuk terus mendorong West Papua menjadi agenda di badan PBB.
“Kami sangat berbesar hati dan semakin positif karena anggota-anggota negara PICWP sudah secara terbuka tunjukkan komitmen mereka untuk mendorong isu West Papua ini.”
Pihaknya kedepan akan bekerja secara individual dengan negeri-negeri tersebut agar PBB mengintervensi isu pelanggaran HAM West Papua, sekaligus mendorong agenda penentuan nasib sendiri West Papua ke Majelis Umum PBB, Dewan HAM PBB, serta Sekretaris Jenderal PBB.
Selain itu, Perdana Menteri Samoa yang merupakan ketua PIF selanjutnya, menurut Duituturaga, sudah menunjukkan sinyal bahwa pihaknya akan menggelar pertemuan 16 anggota CSO dengan keseluruhan pimpinan PIF pada pertemuan PIF tahun depan di Samoa.
“Tidak terlalu banyak nilainya bertemu segelintir pimpinan PIF di Troika,” ujar Emele yang memandang usulan Perdana Menteri Samoa sebagai terobosan yang bagus untuk memberi tekanan lebih besar pada isu politik West Papua.

Victor Yeimo, Ketua Umum KNPB dalam pernyataan tertulisnya kepada Jubi  Senin (12/9) mengakui beratnya pertarungan pengaruh di PIF terkait isu politik West Papua, khususnya karena hubungan ekonomi politik negara-negara besar seperti Australia dan Selandia Baru dengan Indonesia.

“Ada dua level perjuangan yang akan terus kami lakukan untuk perluasan dukungan terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua hingga ke PBB. Level pertama adalah dukungan gerakan sosial dan politik di Pasifik, dan level kedua adalah dukungan pemerintah negaranya. Keduanya bisa berjalan seiring, bisa juga tidak. Tetapi level pertama, yaitu dukungan gerakan sosial dan politik, adalah penentu,” ujar Yeimo.
Dia juga menjelaskan bahwa solidaritas gerakan sosial dan politik di Australia, Selandia Baru dan Indonesia sendiri saat ini sedang bertumbuh.

“Pemerintah Australia, Selandia Baru dan Indonesia boleh jadi masih kepala batu untuk mengakui persoalan politik Papua, tetapi mereka tidak akan bisa membendung perluasan dukungan dari rakyatnya sendiri pada kami,” ujar Yeimo.(*)

Sumber:Tabloidjubi

PCWP Tambah Dukungan untuk Maju ke Komite Dekolonisasi PBB

Posted by WEMPI W. DOO | Minggu, 04 September 2016 | Posted in , , , ,


Anggota dan kolega Koalisi Pasifik untuk West Papua (PCWP) bersama Sekretaris Jenderal Pacific Islands Forum, Dame Meg Taylor, di gedung East-West Centre di Honolulu (2/9/2016) - pmpresssecretariat.com
Anggota dan kolega Koalisi Pasifik untuk West Papua (PCWP) bersama Sekretaris Jenderal Pacific Islands Forum, Dame Meg Taylor, di gedung East-West Centre di Honolulu (2/9/2016) – pmpresssecretariat.com
Jayapura, Jubi – Tuvalu dan Nauru resmi bergabung menjadi anggota Koalisi Pasifik untuk West Papua (PCWP) dalam pertemuan perdana PCWP di lantai 4 Gedung East West Centre, Honolulu Jumat (2/9) lalu, menyusul Kerajaan Tonga dan Republik Kepulauan Marshall yang menunjukkan dukungannya lewat kehadiran Perdana Menteri Hon Akilisi Pohiva dan Menteri Pekerjaan Umum Republik Kepulauan Marshal, Hon David Paul.
Bertambahnya anggota dan dukungan tersebut menunjukkan peningkatan momentum terhadap hak penentuan nasib sendiri dan isu-isu HAM West Papua untuk menjadi desakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), demikian pernyataan resmi sekretariat pers Perdana Menteri Republik Kepulauan Solomon, Minggu (4/9/2016).
Tuvalu adalah pulau di Polinesia yang terletak di Lautan Pasifik antara Hawaii dan Australia. Sementara Nauru adalah negeri kepulauan Mikronesia di Pasifik Tengah, berdekatan dengan Kiribati dan Banaba Islands. Perdana Menteri Tuvalu, Hon Enele Sopoaga dan Yang Mulia Marlene Moses hadir dalam pertemuan perdana PCWP tersebut.
“Negeri kami sepenuhnya mengapresiasi dan bersimpati pada aspirasi dan harapan rakyat West Papua untuk berdiri diatas kaki mereka sendiri dan mendukung hak-hak mereka berdiri sebagai sebuah negara dan menentukan keberlangsungan diri mereka sendiri sebagai rakyat,” demikian ujar Perdana Menteri Sopoaga, seperti dikutip rilis tersebut.
Baca juga Koalisi Pasifik untuk West Papua Gelar Pertemuan Perdana di Honolulu
Merlene Moses, yang juga Permanen Representative Nauru untuk PBB, mengatakan isu West Papua harus dibawa ke UN C24 (Komite Khusus Dekolonisasi), “supaya berhasil, kepemimpinan di Pasifik harus  kuat sehingga bisa mendorongnya lebih strategis,” tegasnya.
Menurut Moses, upaya strategis tersebut dibutuhkan dalam rangka menyelaraskan dukungan, “apa yang didukung sebagian orang, belum tentu didukung yang lain,” ujarnya.
Menteri Paul dari Republik Marshall menyatakan bahwa negerinya melihat isu West Papua dari perspektif kemanusiaan, dan isu-isu kemanusiaan ada di garda depan pemerintahannya.
Sementara Pohiva, Perdana Menteri Tonga, menganggap bahwa penanganan pelanggaran HAM di West Papua menjadi tanggung jawab moral pemerintahannya, termasuk situasi yang makin memburuk menanggapi seruan penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan West Papua.
“Pada Sidang Umum PBB ke-70 tahun lalu, kami sudah menyatakan bahwa semua tujuan tata pemerintahan yang baik serta transparansi, mustahil tercapai tanpa memberi dukungan sepenuhnya pada hak-hak azasi manusia di wilayah-wilayah konflik di seluruh dunia, termasuk Kepulauan Pasifik,” kata dia.
Bersolidaritas untuk rakyat Papua (dari kiri ke kanan) Havea mewakili PIAGO, PM Sogavare dan PM Sopoaga mewakili Tuvalu - pmpresssecretariat.com
Bersolidaritas untuk rakyat Papua (dari kiri ke kanan) Havea mewakili PIAGO, PM Sogavare dan PM Sopoaga mewakili Tuvalu – pmpresssecretariat.com
Komitmen Strategis PCWP
Semua anggota pendiri PCWP hadir dalam pertemuan tersebut, kecuali Pemerintah Vanuatu. Sekretaris Jenderal Pasific Islands Forum (PIF), Dame Meg Taylor, juga hadir.
Perdana Menteri Solomon, Sogavare, yang berdiri paling depan memimpin konsolidasi perluasan dukungan untuk West Papua di Pasifik, dalam kesempatan itu menegaskan bahwa Pasifik memiliki kewajiban sebagai tetangga terdekat West Papua untuk meneruskan aspirasi rakyat di wilayah itu.
“Hak penentuan nasib sendiri rakyat West Papua telah dikhianati sejak 50 tahun terakhir, demikian pula pelanggaran hak hidup dan martabat yang dilanggar karena mereka menuntut penentuan nasib sendiri, padahal itulah prinsip fundamental Piagam Dasar PBB,” tegas Sogavare.
Baca juga Kepulauan Solomon akan Pimpin Advokasi Isu-isu Papua Barat
Maksud dan tujuan PCWP, baginya, sangat sejalan denagn prinsip-prinsip hak azasi manusia dan demokrasi sebagai fondasi Piagam PBB, yang seharusnya dilindungi dan dipatuhi seluruh negara anggota.
Namun dia juga mengakui tidak mudah membalikkan kesalahan yang sudah dilakukan dengan menutup-nutupi dan menambah kerumitan isu West Papua selama bertahun-tahun.
“Itulah sebabnya pendekatan harus lebih kolaboratif dan strategis, hanya dengan kerja bersama menangani isu-isu West Papua secara lebih strategis tujuan misi kita dapat tercapai,” ujarnya.
Sekretaris PIF, Dame Taylor, menyatakan posisi PIF terkait West Papua dalam pemaparannya di forum diskusi PCWP itu. Menurut dia, pada Pertemuan Tingkat Tinggi PIF ke 46 tahun lalu, pihaknya sudah memutuskan misi Pencari Fakta untuk dikirim ke West Papua.
Baca juga Enam Inisiatif Didaftarkan Untuk PIF, Salah Satunya Masalah Papua
Para anggota dan kolega PCWP mendiskusikan langkah selanjutnya untuk perjuangan hak penentuan nasib sendiri rakyat West Papua - pmpresssecretariat.com
Para anggota dan kolega PCWP mendiskusikan langkah selanjutnya untuk perjuangan hak penentuan nasib sendiri rakyat West Papua – pmpresssecretariat.com
“Namun, pemerintah Indonesia menilai istilah “pencari fakta” sebagai hal yang ofensif, sehingga resolusi itu masih terhambat,” ujarnya sambil menjelaskan bahwa dirinya telah bertemu Pimpinan PIF, Perdana Menteri O’Neil dari Papua Nugini serta Presiden Joko Widodo untuk tindak lanjut resolusi tersebut. Pimpinan PIF dikatakannya akan bertemu Presiden Indonesia.
Octovianus Mote, Sekretaris Jenderal ULMWP yang hadir pada kesempatan itu, menegaskan bahwa ULMWP mewakili gerakan pembebasan West Papua, akan terus mendorong perjuangan hak rakyat Papua atas tanahnya, hak penentuan nasib sendiri, dan seluruh hak azasi manusia yang dijamin oleh Piagam Dasar PBB.
Wakil FLNKS, Rodrigue Tiavouane, kembali menegaskan dukungan mereka atas inisiatif PCWP dan strategi yang akan dijalankan ke depan.
“Kami juga telah melalui proses perjuangan hak penentuan nasib sendiri ini, dimulai dengan Melanesian Spearhead Group (MSG) kemudian Pasific Islands Forum (PIF) dan akhirnya ke Komite 24 PBB Khusus untuk Dekolonisasi,” ujarnya.
Sebagai satu-satunya koalisi LSM yang menjadi anggota PCWP, PIANGO (Pacific Islands Alliance of Non-Governmental Organisations), ikut merasakan penderitaan rakyat West Papua dan berkepentingan mendorong para pemimpin Pasifik untuk bersepakat menghentikan kekerasan di Papua dan menemukan jalan perdamaian terbaik bagi hak penentuan nasib sendiri.
“Saya sangat berbesar hati atas kepempimpinan yang ditunjukkan oleh Perdana Menteri Sogavare terhadap isu West Papua ,” ujar anggota PIANGO Tonga, Drew Havea.
Pertemuan PCWP ini ditutup dengan pernyataan komitmen seluruh anggota PCWP terhadap tujuan misi mereka.(*)

Sumber Berita:Tabloidjubi

#TERPOPULER

Random Posts

#Translate

Tayangan Laman

# FIRMAN TUHAN

# FIRMAN TUHAN

# visitor

Flag Counter