Headlines

KTT MSG diusulkan 20 Desember di Port Vila

Posted by WEMPI W. DOO | Sabtu, 19 November 2016 | Posted in , , , ,

SEKRETARIAT MSG -Ist
ayapura, Jubi – KTT Pemimpin MSG yang telah tertunda sejak Oktober akan dijadwalkan Desember 2016 mendatang, demikian pernyataan Direktorat Jenderal  Sekretariat Melanesian Spearhead Group (MSG), Amena Yauvoli.
Berbicara di Vanuatu Nightly News baru-baru ini, seperti dilansir Pacific Islands News Association, Selasa (15/11/2016), Yavouli mengatakan jika seluruh pemimpin MSG setuju, maka KTT akan dilangsungkan 20 Desember 2016.
“Saat ini kami sedang meminta persetujuan negara-negara anggota terkait usulan tanggal dari ketua MSG yakni 20 Desember,” ungkapnya. Sekretariat masih menunggu konfirmasi dari negara-negara anggota menetapkan keputusan tanggal.
Ketika ditanyakan kemungkinan penundaan kembali pertemuan ke tahun 2017 jika tidak mencapai konsensus tanggal pelaksanaan, Dirjen mengatakan tergantung pada para pemimpin MSG.
“Kemungkinan itu ada, namun organisasi ini kan berbasis anggota dimana keputusan dibuat oleh anggota dan pemimpin,” ujarnya sambil menekankan fungsi Sekretariat hanya memfasilitasi dan merekomendasikannya kepada pemimpin.
“Jika mayoritas pemimpin bertanggung jawab untuk mengadakan pertemuan tanggal 20 Desember, maka kami akan kerjakan,” kata Yauvoli.
Yauvoli membenarkan bahwa agenda yang paling ditunggu-ditunggu adalah status keanggotaan yang kembali akan didiskusikan setelah KTT Khusus Pemimpin di Honiara, Kepulauan Solomon, Juli lalu.
Sebelumnya KTT Pemimpin MSG dijadwalkan di Port Vila, Vanuatu 3-4 Oktober 2016 lalu. Saat itu Vanuatu West Papua Association (VWPA) menyelenggarakan Wantok Summit, yang diikuti oleh organisasi-organisasi sipil Free West Papua, kelompok-kelompok pendukung di Melanesia, termasuk United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) seiring rencana KTT Pemimpin MSG tersebut.
Pastor Allan Nafuki, waktu itu menegaskan semua organisasi masyarakat sipil di PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, New Caledonia, dan Fiji 100% mendukung sikap pimpinan MSG, Manasseh Sogavare terhadap keanggotaan penuh ULMWP di MSG, “Saya mau tekankan, rasio dukungan itu 100%, sekali lagi 100%.”(*)


Sumber Berita:Jubi

Taiwan dan Papua Jadi Agenda 2 Negara di Sidang Majelis Umum PBB

Posted by WEMPI W. DOO | Sabtu, 17 September 2016 | Posted in , , , ,

PM Manasye Sogavare sebelum berangkat menuju Brisbane, Jumat (16/9/2016) – Dok. Sekretariat PM Kep. Solomon

Jayapura,
– Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasye Sogavare berangkat ke Brisbane hari ini, Jumat 16 September. Dari Brisbane, ia akan melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB yang ke-71.
Sidang Debat Majelis Umum PBB ke-71 yang berlangsung tanggal 16-25 September 2016 ini akan difokuskan pada pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2030 untuk pembangunan berkelanjutan, yang diadopsi pada UNGA 70. Selain itu, tiga pertemuan tingkat tinggi tentang pengungsi dan migran, resistensi antimikroba dan Perjanjian Iklim Paris akan berlangsung juga minggu depan.
Sidang Debat Majelis Umum PBB ke-71 akan menjadi khusus untuk Kepulauan Solomon, karena Kepulauan Solomon akan berperan sebagai Wakil Presiden selama Debat Majelis Umum. Perdana Menteri Sogavare akan memimpin beberapa sesi debat. Fiji akan bertindak sebagai presiden Majelis Umum.
“Republik Rakyat China akan menyoroti keinginan Taiwan untuk menjadi PBB dan isu Papua Barat akan disampaikan oleh Kepulauan Solomon,” tulis rilis Kantor Perdana Menteri Kepulauan Solomon yang diterima Jubi, Jumat (16/9/2016).
Di sela-sela debat umum, Perdana Menteri Sogavare diagendakan melakukan pembicaraan bilateral dengan Perdana Menteri Malcolm Turnbull, bertemu dengan Presiden Misi Kristen untuk Komunitas PBB, Dr Garry Allen, menghadiri pertemuan Jepang-Pasifik, menghadiri rapat Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik dengan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon dan mengadakan pertemuan Koalisi Pasifik untuk Papua Barat. (*)

Sumber:Tabloidjubi

Geopolitik Pengaruhi Hasil PIF-47, PICWP Konsisten Hingga ke PBB

Posted by WEMPI W. DOO | Selasa, 13 September 2016 | Posted in , , , ,

Para pimpinan negara dalam pertemuan PIF ke 47 di Negara Federasi Mikronesia (FSM) yang berakhir, Minggu (11/9/2016) – pm.gov.pg

 Jayapura, Jubi – PIANGO memandang Australia dan Selandia Baru berperan besar secara geopolitik  hingga membuat hasil komunike Forum Kepulauan Pasifik Selatan (PIF) ke-47 tentang West Papua belum maksimal. 

Pertemuan para pimpinan PIF sejak Rabu (7/9) berakhir pada retreat Minggu (11/9/2016). Isu pelanggaran HAM Papua tetap menjadi agenda dan perhatian para pemimpin negeri Pasifik.
Namun, menurut Direktur Eksekutif Asosiasi NGO Kepulauan Pasifik (PIANGO), Emele Duituturaga, kepada Jubi Selasa (13/9/2016), hasil komunike PIF-47 kali ini belum mencerminkan desakan masyarakat sipil, khususnya terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua.

“Tampak jelas bahwa geopolitik bermain dalam isu ini. Kami menduga para pemimpin kami tidak cukup berani dan tegas di hadapan negara-negara tetangga besar seperti Australia dan Selandia Baru,” ujar Duituturaga yang menyesalkan desakan masyarakat sipil, agar PIF medorong isu penentuan nasib sendiri West Papua ke PBB, belum tercermin dalam hasil Komunike PIF-47.
Namun demikian, lanjutnya, isu pelanggaran HAM Papua, yang tidak bisa digeser dari agenda PIF, adalah capaian penting.
“Kami tahu beberapa negara anggota PIF bahkan berharap isu West Papua dihapuskan sama sekali dari agenda PIF,” kata dia sambil  memahami bahwa hasil komunike tersebut adalah pertarungan politik dan pengaruh.

Hasil komunike terkait isu West Papua di dalam poin 18 menyatakan, bahwa para pemimpin mengakui sensitivitas politik isu West Papua (Papua) dan bersepakat isu dugaan pelanggaran HAM di West Papua (Papua) harus tetap ada dalam agenda. Para pemimpin juga bersepakat pentingnya sebuah dialog terbuka dan konstruktif dengan Indonesia terkait masalah itu.
Menanggapi hasil Komunike PIF ke 47 yang belum memenuhi harapan perjuangan politik West Papua, Octovianus Mote, Sekretaris ULMWP kepada Jubi mengatakan dirinya tidak menganggap hal tersebut sebagai kekalahan.
“Kita menang dalam hal dukungan. Tahun ini hampir semua negeri mendukung Papua Barat. Tahun lalu masih sangat sedikit karena masih banyak yang belum tahu dan tidak bersuara,” ujarnya.
Dia mengaku justru lebih lebih optimis saat ini. “Saya lebih optimistik karena pemimpin kunci bersuara sama.”
PICWP Lanjutkan ke PBB
Terlepas dari hasil PIF-47 tersebut, Emele Duituturaga menegaskan bahwa PICWP, yang terdiri dari Kepulauan Solomon, Vanuatu, Republik Kepulauan Marshall, Nauru, Tuvalu dan PIANGO, adalah platform yang semakin bisa diandalkan untuk terus mendorong West Papua menjadi agenda di badan PBB.
“Kami sangat berbesar hati dan semakin positif karena anggota-anggota negara PICWP sudah secara terbuka tunjukkan komitmen mereka untuk mendorong isu West Papua ini.”
Pihaknya kedepan akan bekerja secara individual dengan negeri-negeri tersebut agar PBB mengintervensi isu pelanggaran HAM West Papua, sekaligus mendorong agenda penentuan nasib sendiri West Papua ke Majelis Umum PBB, Dewan HAM PBB, serta Sekretaris Jenderal PBB.
Selain itu, Perdana Menteri Samoa yang merupakan ketua PIF selanjutnya, menurut Duituturaga, sudah menunjukkan sinyal bahwa pihaknya akan menggelar pertemuan 16 anggota CSO dengan keseluruhan pimpinan PIF pada pertemuan PIF tahun depan di Samoa.
“Tidak terlalu banyak nilainya bertemu segelintir pimpinan PIF di Troika,” ujar Emele yang memandang usulan Perdana Menteri Samoa sebagai terobosan yang bagus untuk memberi tekanan lebih besar pada isu politik West Papua.

Victor Yeimo, Ketua Umum KNPB dalam pernyataan tertulisnya kepada Jubi  Senin (12/9) mengakui beratnya pertarungan pengaruh di PIF terkait isu politik West Papua, khususnya karena hubungan ekonomi politik negara-negara besar seperti Australia dan Selandia Baru dengan Indonesia.

“Ada dua level perjuangan yang akan terus kami lakukan untuk perluasan dukungan terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua hingga ke PBB. Level pertama adalah dukungan gerakan sosial dan politik di Pasifik, dan level kedua adalah dukungan pemerintah negaranya. Keduanya bisa berjalan seiring, bisa juga tidak. Tetapi level pertama, yaitu dukungan gerakan sosial dan politik, adalah penentu,” ujar Yeimo.
Dia juga menjelaskan bahwa solidaritas gerakan sosial dan politik di Australia, Selandia Baru dan Indonesia sendiri saat ini sedang bertumbuh.

“Pemerintah Australia, Selandia Baru dan Indonesia boleh jadi masih kepala batu untuk mengakui persoalan politik Papua, tetapi mereka tidak akan bisa membendung perluasan dukungan dari rakyatnya sendiri pada kami,” ujar Yeimo.(*)

Sumber:Tabloidjubi

Tuvalu, Nauru bergabung dengan grup yang berkembang untuk Papua Barat

Posted by WEMPI W. DOO | Selasa, 06 September 2016 | Posted in , , ,

Tuvalu's PM Enele Sopoaga has added his country to the Pacific Coalition on West Papua Photo: RNZI / Jamie Tahana

Dua negara telah bergabung dengan Koalisi Pasifik di Papua Barat, menyuarakan keprihatinan mereka atas pelanggaran hak asasi manusia di provinsi Indonesia dan meminta agar PBB turun tangan.

Kelompok ini didirikan oleh Solomon Perdana Menteri Kepulauan Manasye Sogavare, dalam menanggapi inklusi Melanesian Spearhead Group Indonesia sebagai pengamat, bukan pemberian keanggotaan Papua Barat kelompok.

PM Perdana Menteri Tuvalu Enele SopoagaTuvalu ini Enele Sopoaga telah menambahkan negaranya untuk Koalisi Pasifik di Foto Papua Barat: RNZI / Jamie Tahana
Sejumlah kepala Pacific pemerintah telah menyuarakan keprihatinan mereka atas Papua Barat di PBB, dengan Tonga PM, 'Akilisi Pohiva tahun lalu meminta PBB untuk campur tangan.

Pada pertemuan di Honolulu pekan lalu, Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, dan duta Nauru untuk negara-negara Pasifik, Marlene Moses bergabung dengan grup.

Orang lain yang sudah bergabung adalah Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru FLNKS, dan Gerakan Serikat Pembebasan Papua Barat dan Kepulauan Pasifik Aliansi Swadaya Masyarakat-Organisasi, atau Pango.

Pada bulan Agustus, para pemimpin MSG ditangguhkan keputusan tentang tawaran keanggotaan Papua Barat setelah Fiji dan PNG terus menentang penerapannya.

Sumber Berita:Radio NZ

#TERPOPULER

Random Posts

#Translate

Tayangan Laman

# FIRMAN TUHAN

# FIRMAN TUHAN

# visitor

Flag Counter